RM.id Rakyat Merdeka - Setelah melalui rangkaian persidangan yang panjang dan penuh dinamika, Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) akhirnya menetapkan Yohanes Tola sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) PMKRI periode 2026–2028.
Penetapan tersebut berlangsung dalam MPA lanjutan di Bandung, setelah rangkaian Kongres XXXIV dan MPA XXXIII yang sebelumnya digelar di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 19–25 Juli 2026 belum menghasilkan keputusan final terkait kepemimpinan nasional PMKRI.
Kongres XXXIV dan MPA XXXIII di Ruteng sebelumnya diwarnai dinamika organisasi yang cukup panjang. Dalam proses persidangan, muncul perbedaan pandangan di antara peserta forum terkait prosedur persidangan, legitimasi sejumlah keputusan, serta penerapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PMKRI dan Tata Tertib Sidang MPA XXXIII.
Perbedaan pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan mengenai keabsahan prosedur dan legitimasi keputusan forum.
Kondisi itu membuat sejumlah agenda penting MPA belum dapat diselesaikan secara tuntas, termasuk agenda penetapan kepemimpinan nasional PMKRI. Situasi tersebut kemudian mendorong perlunya penyelesaian melalui forum lanjutan dengan tetap mengedepankan mekanisme organisasi, prinsip musyawarah, serta kepatuhan terhadap konstitusi dan tata aturan yang berlaku di lingkungan PMKRI.
Untuk menyelesaikan agenda yang belum tuntas, MPA XXXIII kemudian dilanjutkan di Bandung. Forum lanjutan itu menjadi ruang bagi peserta MPA untuk kembali membahas berbagai persoalan yang berkembang sekaligus menyelesaikan agenda kepemimpinan nasional PMKRI.
Proses persidangan di Bandung kembali diwarnai dialektika dan adu gagasan. Para peserta menyampaikan pandangan serta argumentasi masing-masing dalam upaya menemukan titik temu dan memastikan keberlanjutan organisasi.
Baca juga : Lagu Glenn Fredly Iringi Terpilihnya Delvis Rettob sebagai Ketua Presidium PP PMKRI
Setelah melalui proses pembahasan dan pengambilan keputusan dalam forum, MPA akhirnya menetapkan Yohanes Tola sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI periode 2026–2028.
Penetapan tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian MPA XXXIII sekaligus membuka tahapan baru bagi PMKRI untuk memperkuat konsolidasi organisasi di tingkat nasional.
Usai ditetapkan sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI, Yohanes Tola menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh seluruh cabang.
Ia juga mengajak seluruh kader PMKRI mengakhiri berbagai sekat yang muncul selama dinamika MPA dan kembali membangun organisasi secara bersama-sama.
“Dinamika yang kita lalui dari Ruteng hingga Bandung adalah bukti ketangguhan dan kedewasaan berorganisasi seluruh kader PMKRI. Perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah, namun komitmen terhadap pembinaan dan perjuangan organisasi adalah yang utama. Hari ini, tidak ada lagi sekat. Kita berjalan bersama merawat konsolidasi internal, menguatkan nilai tiga benang merah organisasi: Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas, serta mengembalikan peran strategis PMKRI di tengah Gereja dan bangsa,” kata Yohanes.
Menurutnya, berakhirnya MPA XXXIII harus menjadi momentum untuk menghentikan berbagai perbedaan yang muncul selama proses persidangan dan mengembalikan energi organisasi pada agenda pembinaan kader, pengabdian kepada masyarakat, serta perjuangan kebangsaan.
Di tengah momentum terpilihnya sebagai pemimpin baru PP PMKRI, Yohanes Tola juga menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi.
Baca juga : DPD RI dan PMKRI Soroti Dampak Sosial-Ekologis PSN di Tanah Papua
“Saya menyampaikan duka yang mendalam kepada seluruh masyarakat Flores yang terdampak gempa. Tidak boleh ada satu pun masyarakat yang merasa sendirian dalam situasi seperti ini. Mereka membutuhkan kehadiran dan bantuan kita,” kata Yohanes.
Ia menegaskan, solidaritas tidak boleh berhenti pada pernyataan belasungkawa. Menurutnya, PMKRI memiliki tanggung jawab moral untuk hadir bersama masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.
“Solidaritas tidak cukup berhenti pada pernyataan belasungkawa. PMKRI bersama cabang-cabang di berbagai daerah akan bergerak untuk membantu masyarakat terdampak sesuai kemampuan dan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan baru PP PMKRI tidak hanya akan berfokus pada konsolidasi internal organisasi, tetapi juga mendorong kehadiran PMKRI dalam berbagai persoalan kemanusiaan dan kebangsaan.
Setelah terpilih, Yohanes Tola akan menghadapi sejumlah agenda strategis untuk memastikan roda organisasi nasional berjalan secara efektif.
Pertama, penyusunan kabinet PP PMKRI. Dalam kapasitasnya sebagai Formatur Tunggal, Yohanes akan menyusun struktur kepengurusan periode 2026–2028 dengan memperhatikan kebutuhan organisasi, kapasitas kader, representasi cabang, serta prinsip inklusivitas dan akuntabilitas.
Kedua, rekonsiliasi dan konsolidasi nasional. Kepemimpinan baru dihadapkan pada kebutuhan untuk mengutuhkan kembali seluruh potensi cabang PMKRI setelah melewati dinamika panjang MPA XXXIII.
Baca juga : LPOI Peringatkan Krisis Ekologi dan Global, Serukan Konsolidasi Nasional
Ketiga, penguatan sistem kaderisasi. Pembinaan kader menjadi salah satu agenda utama untuk memastikan keberlanjutan regenerasi kepemimpinan PMKRI yang memiliki kapasitas intelektual, karakter, serta komitmen terhadap nilai-nilai organisasi.
Keempat, penguatan respons terhadap persoalan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. PMKRI diharapkan tidak hanya hadir dalam ruang diskursus, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas melalui kerja nyata di tengah masyarakat.
Berakhirnya MPA XXXIII di Bandung menjadi penutup rangkaian proses organisasi yang panjang sekaligus awal bagi kepemimpinan nasional PMKRI periode 2026–2028.
Terpilihnya Yohanes Tola sebagai Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PP PMKRI membawa mandat untuk memperkuat kembali persatuan organisasi, membangun konsolidasi nasional, memperkuat kaderisasi, serta memastikan PMKRI tetap hadir dan relevan dalam menjawab berbagai persoalan Gereja dan bangsa.
Setelah melalui dinamika dari Ruteng hingga Bandung, tantangan berikutnya bukan lagi mempertahankan perbedaan, melainkan memastikan seluruh energi organisasi diarahkan pada kerja-kerja konkret dan produktif.
MPA XXXIII telah berakhir. PMKRI kini memasuki babak baru dengan agenda memperkuat persatuan, menghidupkan kaderisasi, dan menghadirkan solidaritas nyata bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.