RM.id Rakyat Merdeka - Istilah desil belakangan semakin sering muncul dalam pembahasan berbagai program pemerintah, terutama setelah pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai rujukan bersama.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa desil bukan ukuran langsung kondisi ekonomi sebuah keluarga. Desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya.
Karena itu, keluarga yang berada dalam desil yang sama tidak otomatis memiliki tingkat pendapatan, kekayaan, maupun pengeluaran yang sama.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, angka desil menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan.
“Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga,” ujar Amalia dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).
Dalam DTSEN, keluarga diberi peringkat berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga.
Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Sementara desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Sebagai contoh, keluarga yang masuk desil 3 berarti berada dalam kelompok ketiga dari 10 kelompok pemeringkatan kesejahteraan relatif.
Dengan demikian, desil bukan ukuran absolut kemiskinan, pendapatan, ataupun kekayaan sebuah keluarga. Penentuan desil juga tidak dilakukan hanya berdasarkan besaran penghasilan.
Baca juga : 3 Cara Gampang Pembaruan Data Sosial Ekonomi, Bisa Lewat HP
Banyak Faktor Jadi Pertimbangan
Berbagai karakteristik sosial ekonomi dipertimbangkan secara bersamaan dalam menentukan posisi relatif keluarga.
Faktor tersebut antara lain kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi disabilitas.
Artinya, satu indikator tidak secara otomatis menentukan posisi desil sebuah keluarga.
Kepemilikan kendaraan, misalnya, tidak serta-merta membuat sebuah keluarga masuk desil tertentu. Hal serupa berlaku untuk pekerjaan, daya listrik, tingkat pendidikan, maupun kepemilikan satu jenis aset tertentu.
Dalam proses pemeringkatan, DTSEN menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT). Metode ini digunakan untuk mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi yang dapat diamati.
PMT juga digunakan di berbagai negara, terutama ketika informasi mengenai pendapatan atau konsumsi rumah tangga sulit diperoleh atau diverifikasi secara lengkap.
Melalui metode tersebut, berbagai karakteristik keluarga dihitung secara bersama-sama untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatifnya. Karena itu, perubahan pada satu indikator saja tidak otomatis membuat sebuah keluarga berpindah desil.
Tak Otomatis Dapat Bantuan
Baca juga : Jangan Keliru! Ini Arti Desil 1-10 dan Cara Ngeceknya
Informasi desil dapat digunakan kementerian dan lembaga sebagai salah satu dasar untuk menentukan sasaran atau prioritas program sesuai tujuan dan ketentuan masing-masing program.
Namun, masuk dalam desil tertentu tidak otomatis berarti seseorang berhak menerima bantuan tertentu.
Setiap program pemerintah memiliki kriteria dan ketentuan penerima masing-masing. Karena itu, penggunaan informasi desil harus dilihat sesuai konteks program yang bersangkutan.
Posisi desil juga dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial ekonomi sebuah keluarga maupun perubahan posisi relatifnya dibandingkan dengan keluarga lainnya.
Meski demikian, perubahan satu kondisi tidak otomatis menyebabkan perubahan desil karena pemeringkatan menggunakan berbagai karakteristik secara bersamaan.
DTSEN Terus Dimutakhirkan
Pemerintah terus melakukan pemutakhiran DTSEN agar pemeringkatan dapat mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Pemutakhiran dilakukan melalui berbagai sumber, antara lain data administrasi, hasil sensus dan survei, pembaruan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, pengecekan lapangan atau ground check, serta informasi yang disampaikan masyarakat melalui kanal yang tersedia.
Per 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 Tahun 2026 mencakup 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga.
Baca juga : 6 Anggapan Keliru Tentang Desil, Jangan Sampai Salah Kaprah
Data tersebut terus diperbarui agar informasi yang digunakan pemerintah semakin mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat terkini.
Masyarakat yang menemukan informasi mengenai dirinya atau keluarganya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya juga dapat mengajukan pembaruan melalui mekanisme usul dan sanggah.
Sejumlah kanal yang tersedia antara lain Cek Bansos melalui situs atau aplikasi, SIKS-NG melalui operator desa/kelurahan, serta Cek DTSEN.
Namun, pengajuan pembaruan data tidak berarti posisi desil akan berubah secara otomatis. Informasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bagian dari proses pemutakhiran dan penghitungan kembali.
Posisi desil tetap ditentukan berdasarkan data dan metode yang berlaku.
“BPS bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran untuk menjaga kualitas DTSEN agar semakin mencerminkan kondisi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam memastikan informasi diri dan keluarganya sesuai dengan kondisi sebenarnya juga menjadi bagian penting dari proses tersebut,” pungkas Amalia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.