RM.id Rakyat Merdeka - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat tetap mengedepankan etika dan budaya santun dalam menyampaikan kritik, aspirasi, maupun pandangan terhadap kebijakan pemerintah.
Kritik dinilai penting sebagai bagian dari demokrasi, namun perlu disampaikan secara konstruktif dan bertanggung jawab.
Wakil Ketua Umum MUI Kiai Marsudi Suhud mengatakan, agama memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan nasihat maupun kritik.
Namun, kebebasan tersebut perlu dijalankan dengan kesabaran, menjaga adab, serta tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Inti dari kritik dan unjuk rasa adalah untuk perbaikan dan membangun bangsa. Karena tujuannya baik, maka harus dilakukan dengan cara yang baik pula serta tetap menjaga ketertiban," ujar Marsudi, Rabu (26/8/2026).
Baca juga : Apoteker di Era Digital: Menimbang Ulang Peran Manusia di Tengah Gemuruh AI
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah itu menegaskan, kebebasan berpendapat harus diiringi dengan tanggung jawab.
Penyampaian aspirasi, menurutnya, tidak seharusnya berubah menjadi tindakan yang merugikan kepentingan masyarakat.
Ia mengingatkan agar aksi penyampaian pendapat tidak disertai perusakan fasilitas umum, tindakan anarkis, maupun aktivitas lain yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan publik.
"Penyampaian kritik diperbolehkan dalam ajaran agama, tetapi hal-hal yang tidak boleh dilakukan harus ditinggalkan, seperti membuat kerusakan, menimbulkan ketidaknyamanan, atau tindakan yang kontraproduktif. Unjuk rasa harus dilakukan sesuai aturan yang berlaku," jelasnya.
Di sisi lain, Marsudi mengingatkan pemerintah agar tidak menutup diri terhadap kritik masyarakat.
Baca juga : MPR Gelar Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi NU
Aspirasi yang disampaikan secara tertib, kata dia, perlu didengarkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
"Di sisi lain, pemerintah sebagai pihak yang didemo diharapkan mau mendengarkan masukan tersebut dan segera menentukan kebijakan yang tepat secara santun. Intinya, lakukan dengan cara yang baik dan jangan sampai membuat kerusakan," tuturnya.
Menurut Marsudi, perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi telah menyediakan semakin banyak ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Aspirasi tidak hanya dapat disalurkan melalui aksi di ruang publik, tetapi juga lewat dialog, diskusi, serta forum pertemuan antara masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah.
Ia berharap, komunikasi yang terbuka dan santun dapat membuat dinamika demokrasi berjalan lebih sehat.
Baca juga : Republik Perlu Malu
Dengan demikian, kritik tetap dapat menjadi sarana kontrol sosial sekaligus jalan untuk mencari solusi bersama tanpa mengorbankan ketertiban, keamanan, dan kepentingan masyarakat luas.
"Dengan pola komunikasi yang santun dan terbuka, setiap dinamika demokrasi diharapkan dapat diarahkan untuk mencari solusi, tanpa mengabaikan ketertiban, keamanan, maupun kepentingan masyarakat secara luas," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.