Dark/Light Mode

Republik Perlu Malu

Jumat, 31 Juli 2026 08:52 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Juli hampir selesai. Sebulan penuh negeri ini berbicara tentang uang, makan, hukum, anggaran, mahasiswa, demokrasi, investasi, sekolah rakyat, dan stabilitas. Semua tampak seperti isu yang berbeda. Padahal ada satu benang merah yang menyatukannya: apakah kekuasaan masih punya rasa malu ketika kebijakan tidak berjalan sebagaimana dijanjikan?

Di situlah ironi negara bekerja. Kegagalan sering tidak disebut gagal. Ia disebut penyesuaian. Kekacauan disebut dinamika. Pemborosan disebut percepatan. Kritik disebut gangguan. Kemunduran disebut konsolidasi. Negara yang kehilangan rasa malu akan terus menjelaskan kegagalannya dengan bahasa keberhasilan.

Baca juga : Stabilitas Jangan Galak

Rakyat kecil paling tahu harga dari hilangnya rasa malu itu. Mereka tidak hidup dari konferensi pers. Mereka hidup dari harga beras, kualitas sekolah, layanan kesehatan, keamanan jalanan, kejujuran bantuan sosial, dan keberanian aparat berlaku adil. Ketika negara salah, rakyat menanggung akibatnya. Ketika negara berkelit, rakyat menanggung kejengkelannya. Ketika negara tidak malu, rakyat dipaksa bersabar seolah-olah kesabaran adalah kebijakan publik.

Avishai Margalit dalam The Decent Society mengingatkan bahwa masyarakat yang baik bukan hanya masyarakat yang adil secara hukum, tetapi masyarakat yang tidak mempermalukan manusia melalui institusi-institusinya. Negara yang beradab bukan hanya negara yang punya gedung tinggi, anggaran besar, dan program megah. Negara yang beradab adalah negara yang tidak membuat warganya merasa kecil, dipermainkan, dibohongi, atau sekadar dijadikan angka dalam laporan kekuasaan.

Baca juga : Sekolah Bukan Panggung

Titik buta kekuasaan adalah mengira malu sebagai kelemahan. Padahal rasa malu adalah rem moral. Pejabat yang masih punya malu akan berhenti sebelum menyalahgunakan jabatan. Birokrasi yang masih punya malu akan memperbaiki data sebelum bantuan salah sasaran. Aparat yang masih punya malu akan menahan diri sebelum menakut-nakuti warga. Parlemen yang masih punya malu akan bertanya sebelum menyetujui. Tanpa malu, kekuasaan hanya punya prosedur, tetapi kehilangan nurani.

Karena itu, republik perlu mengembalikan rasa malu sebagai etika publik. Malu ketika anggaran bocor. Malu ketika janji terlalu besar tetapi persiapan terlalu kecil. Malu ketika rakyat diminta berhemat sementara elite tetap nyaman. Malu ketika kritik dibungkam. Malu ketika hukum tajam ke bawah dan ragu ke atas. Malu bukan untuk merendahkan negara, tetapi untuk menyelamatkannya dari kesombongan yang membuat koreksi terasa seperti penghinaan.

Baca juga : Modal Tak Buta

Republik ini tidak kekurangan pidato. Tidak kekurangan program. Tidak kekurangan slogan. Yang sering kurang adalah keberanian untuk berkata: kami salah, kami perbaiki, kami bertanggung jawab. Sebab negara yang masih bisa malu masih mungkin menjadi dewasa. Tetapi negara yang tidak lagi punya malu akan terus berdiri gagah di depan kamera, sementara kepercayaan rakyat pelan-pelan pergi tanpa pamit.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.