Dark/Light Mode

Amanah Seorang Pelatih: Ketika Etika Bisnis Islam Hidup di Pinggir Kolam Renang

Selasa, 30 Juni 2026 16:57 WIB
Ilustrasi pelatihan renang. (Gambar: Istimewa)
Ilustrasi pelatihan renang. (Gambar: Istimewa)

Saya seorang pelatih renang. Sekilas, profesi saya tampak jauh dari dunia bisnis. Saya tidak menjual produk, tidak mengelola toko, dan tidak menghitung laba-rugi setiap bulan. Namun semakin lama saya menekuni pekerjaan ini, semakin saya sadar bahwa nilai-nilai yang diajarkan dalam etika bisnis Islam ternyata sangat hidup di pinggir kolam tempat saya melatih setiap hari. Menurut saya, etika bukan milik para pebisnis saja; ia milik siapa pun yang dipercaya mengemban tanggung jawab.

Nilai pertama yang paling saya rasakan adalah amanah. Setiap kali orang tua menyerahkan anaknya untuk saya latih, sesungguhnya mereka sedang menitipkan sesuatu yang sangat berharga: keselamatan dan masa depan buah hati mereka. Al-Qur'an dalam Surah An-Nisa ayat 58 memerintahkan kita untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Ayat itu terasa nyata setiap kali seorang anak melompat ke air sambil mempercayakan keselamatannya kepada saya. Saya tidak boleh lengah sedetik pun, karena kelalaian saya bisa berakibat fatal. Inilah bentuk amanah yang sama beratnya dengan amanah seorang pengelola bisnis terhadap konsumennya.

Baca juga : Mahasiswa UMB Borong Penghargaan di Kompetisi Bisnis Internasional

Nilai kedua adalah kejujuran dan integritas. Dalam melatih, selalu ada godaan untuk membesar-besarkan kemajuan murid agar orang tua senang dan terus membayar. Namun, pelatih yang baik harus jujur menyampaikan kondisi sebenarnya, termasuk ketika seorang anak butuh waktu lebih lama untuk berkembang. Sama seperti dalam bisnis, kejujuran adalah fondasi kepercayaan. Sekali seorang pelatih ketahuan membohongi demi keuntungan, reputasinya akan runtuh dan tidak ada lagi orang tua yang mau menitipkan anaknya.

Nilai ketiga adalah kepemimpinan yang melayani, atau yang dalam etika bisnis Islam dikenal sebagai servant leadership. Seorang pelatih pada hakikatnya adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Saya tidak memimpin dengan membentak atau menakut-nakuti, melainkan dengan memberi contoh, menyemangati, dan sabar membimbing. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini selalu mengingatkan saya bahwa keberhasilan murid adalah tanggung jawab yang akan saya pertanggungjawabkan, bukan sekadar prestasi yang saya banggakan.

Baca juga : Restorasi Jiwa Indonesia: Ketakutan Kolektif Bisa Menggerus Kekuatan Bangsa

Nilai keempat adalah tanggung jawab dan keadilan. Saya melatih banyak anak dengan karakter dan kemampuan yang berbeda-beda. Etika menuntut saya untuk berlaku adil, tidak memberi perhatian lebih hanya kepada anak yang berbakat atau yang orang tuanya membayar lebih. Setiap murid berhak atas bimbingan terbaik sesuai kebutuhannya. Keadilan inilah yang juga menjadi salah satu prinsip utama dalam etika bisnis Islam: memperlakukan setiap pihak secara proporsional tanpa diskriminasi.

Dari pengalaman ini, saya menarik sebuah kesimpulan. Etika bisnis Islam sejatinya bukan sekadar aturan untuk berdagang, melainkan pedoman akhlak yang berlaku universal. Amanah, kejujuran, kepemimpinan yang melayani, dan keadilan adalah nilai yang dibutuhkan di mana pun, baik di balik meja kasir sebuah toko maupun di pinggir kolam renang tempat saya berdiri. Cendekiawan Muslim Yusuf al-Qaradawi pun menegaskan bahwa Islam menempatkan akhlak sebagai ruh dari setiap aktivitas, bukan hanya pelengkap.

Baca juga : Bawa 15 Kantong Belanja, Dikaitkan di Ikat Pinggang

Pada akhirnya, saya percaya bahwa profesi apa pun yang kita jalani adalah ladang untuk mempraktikkan etika. Saya mungkin hanya seorang pelatih renang, tetapi setiap kali saya menjaga amanah, berlaku jujur, dan memimpin dengan hati, saya merasa sedang menjalankan nilai-nilai yang sama mulianya dengan yang diajarkan dalam etika bisnis Islam. Karena pada hakikatnya, kepercayaan yang dititipkan kepada kita, dalam bentuk apa pun, adalah sesuatu yang tidak boleh dikhianati.

Muhammad Haikal Khaliez
Muhammad Haikal Khaliez
Mahasiswa Semester VI Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.