Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Penerapan Etika Bisnis Islam dalam Kelola 7 Cabang Hisana Fried Chicken
Senin, 29 Juni 2026 17:26 WIB
Sebagai seorang Kepala Cabang yang dipercaya mengelola tujuh toko Hisana Fried Chicken, saya belajar satu hal yang tidak pernah saya temukan utuh di buku teks: bisnis makanan bukan sekadar soal seberapa renyah ayam goreng yang kami jual, tetapi soal seberapa besar kepercayaan yang berhasil kami jaga. Dari situlah saya menyadari bahwa etika bisnis Islam bukan teori yang jauh di awan, melainkan pedoman yang saya praktikkan setiap hari di lapangan.
Kata kunci dari seluruh tanggung jawab ini adalah amanah. Tujuh toko, puluhan karyawan, ribuan pelanggan setiap minggu, dan bahan baku yang harus selalu terjaga kualitasnya. Semua itu adalah titipan yang kelak harus saya pertanggungjawabkan, bukan hanya kepada perusahaan, tetapi juga kepada Allah. Al-Qur'an dalam Surah An-Nisa ayat 58 menegaskan perintah untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Bagi saya, ayat ini adalah panduan kerja yang sangat nyata.
Baca juga : Kredit Pintar Dan AFPI Edukasi Mahasiswa Unisma Kelola Keuangan Bijak
Amanah pertama yang saya pegang adalah kehalalan dan kualitas produk. Dalam bisnis makanan, halal tidak berhenti pada label sertifikat yang dipajang di dinding toko. Halal harus dijaga dari hulu ke hilir: memastikan pemasok ayam terpercaya, penyimpanan yang higienis, minyak yang diganti secara berkala, hingga kebersihan dapur. Saya selalu menekankan kepada tim bahwa menjual makanan yang tidak layak kepada pelanggan sama saja dengan mengkhianati kepercayaan mereka. Rasulullah SAW, yang sejak muda dikenal sebagai al-Amin atau orang yang terpercaya dalam berdagang, mengajarkan bahwa penjual yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para nabi dan orang-orang saleh. Prinsip itu yang saya jadikan standar.
Amanah kedua adalah perlakuan terhadap karyawan. Mengelola tujuh cabang berarti bertanggung jawab atas nasib banyak keluarga yang menggantungkan hidup pada gaji bulanan mereka. Etika bisnis Islam mengajarkan agar hak pekerja ditunaikan sebelum keringatnya kering. Maka membayar gaji tepat waktu, memberi jam kerja yang manusiawi, serta memperlakukan crew dengan hormat bukanlah sekadar kebaikan, melainkan kewajiban. Saya percaya, pemimpin yang adil kepada timnya akan menuai loyalitas, dan loyalitas itulah yang menjaga kualitas pelayanan di seluruh cabang.
Baca juga : Dewi Asmara Soroti Respons LPSK dalam Kasus Penyekapan di Bandung
Amanah ketiga adalah kejujuran kepada pelanggan. Di tengah persaingan kuliner yang ketat, godaan untuk mengurangi takaran, memakai bahan murah berkualitas rendah, atau membuat promosi yang melebih-lebihkan selalu ada. Namun, kecurangan kecil yang dianggap sepele justru paling cepat menghancurkan kepercayaan. Pelanggan mungkin tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui. Dalam Islam, praktik mengurangi takaran dan timbangan dikecam keras. Bagi saya, transparansi adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih menguntungkan daripada keuntungan sesaat dari kecurangan.
Dari pengalaman memimpin ini, saya menarik satu kesimpulan. Etika bisnis Islam justru menjadi keunggulan kompetitif yang nyata di sektor riil. Toko yang dikelola dengan jujur, bersih, dan adil akan dipercaya pelanggan dan dijaga oleh karyawannya sendiri. Cendekiawan Muslim seperti Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa Islam tidak menentang keuntungan, melainkan menuntut agar keuntungan itu diraih dengan cara yang bersih dan tidak menzalimi siapa pun. Inilah yang membedakan bisnis yang sekadar besar dengan bisnis yang sungguh-sungguh berkah.
Baca juga : Perbaikan Tata Kelola Makanan
Pada akhirnya, memimpin tujuh cabang mengajarkan saya bahwa keberhasilan sebuah bisnis tidak diukur semata dari berapa banyak toko yang dibuka atau berapa besar omzet yang dicetak. Keberhasilan sejati diukur dari seberapa kuat kita memegang amanah di tengah peluang untuk berlaku curang. Karena pada akhirnya, ayam goreng hanyalah produk, tetapi kepercayaan adalah modal yang tidak ternilai dan tidak boleh sekali pun dikhianati.
FADHLURROHMAN ZAINUL HANIF
Mahasiswa Semester VI Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah
Mahasiswa Semester VI Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syari’ah
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya