RM.id Rakyat Merdeka - Massa yang tergabung dalam Persatuan Barisan Rakyat Indonesia (PBRI) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor berita asing asal Inggris, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026). Dalam aksi itu, massa mengkritik pemberitaan mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka merasa, pemberitaan yang disajikan media itu belum menyajikan persoalan secara utuh dan berimbang.
PBRI menegaskan, aksi ini merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawasi kerja media. Menurut mereka, media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara masyarakat memahami suatu peristiwa. Oleh karena itu, setiap informasi mengenai bencana perlu disampaikan berdasarkan data yang terverifikasi, konteks yang lengkap, serta sudut pandang yang proporsional.
Massa meminta kantor berita tersebut mengevaluasi pemberitaan karhutla agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap penanganan bencana di Indonesia. Mereka juga mendesak media tersebut memberikan ruang yang memadai bagi Pemerintah, petugas pemadam, relawan, masyarakat terdampak, akademisi, dan pihak lain yang bekerja langsung di lapangan.
Baca juga : Menhut Pantau Karhutla Kubu Raya, Pendinginan Dimasifkan
PBRI turut menyoroti pentingnya penghargaan terhadap perjuangan petugas gabungan dan masyarakat yang menghadapi kebakaran di lapangan. Menurut massa, pemberitaan yang hanya menonjolkan kegagalan tanpa menjelaskan upaya pemadaman, pencegahan, penegakan hukum, dan kerja lintas lembaga berpotensi menghasilkan gambaran yang tidak lengkap.
Kritik mengenai cara media membingkai isu karhutla juga menjadi perhatian dalam kajian akademik. Ayu Wardani, pengamat dan peneliti komunikasi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, bersama Dede Suprayitno, menjelaskan bahwa media dapat membentuk persepsi publik melalui pemilihan masalah,
Menurut keduanya, persepsi tersebut dibentuk melalui pemilihan persoalan, narasumber, penyebab, dan solusi yang ditonjolkan dalam pemberitaan. Mereka juga menemukan bahwa pemberitaan karhutla masih terbatas dalam menggali akar persoalan struktural, mitigasi, dan solusi berkelanjutan.
Baca juga : Menhut Tegas Tangani Karhutla, Izin 5 Korporasi di Kalbar Dibekukan
“Karena itu, pemberitaan karhutla tidak cukup hanya menggambarkan besarnya kebakaran dan dampaknya. Media juga perlu menyajikan konteks penyebab, upaya penanganan, serta solusi jangka panjang secara proporsional,” demikian pandangan, seperti keterangan yang PBRI yang diterima redaksi, Kamis (3/9/2026).
PBRI berharap, kantor berita tersebut dapat menanggapi aspirasi mereka secara terbuka melalui dialog, klarifikasi, koreksi apabila ditemukan kekeliruan, serta penyajian pemberitaan lanjutan yang lebih komprehensif.
Mereka berharap, aksi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan yang sehat antara masyarakat dan media. Kritik terhadap pemberitaan hendaknya disampaikan secara damai dan sesuai hukum, sedangkan penyelesaiannya dapat ditempuh melalui dialog, hak jawab, hak koreksi, maupun mekanisme pengaduan kepada Dewan Pers.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.