RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni gagal mendarat di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) akibat kabut asap tebal yang menyelimuti Bandara Supadio, Kamis (3/9/2026). Di tengah memburuknya kondisi karhutla, pesawat tempur F-16 juga dikerahkan untuk memantau titik panas dan titik api dari udara di Riau.
Pesawat yang membawa Raja Juli bersama rombongan terpaksa mengurungkan pendaratan karena jarak pandang di sekitar Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, hanya sekitar 100 meter.
Gubernur Kalbar Ria Norsan bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebelumnya telah menunggu kedatangan Menhut di terminal VIP Bandara Supadio. “Beliau batal datang karena kabut asap dan jarak pandang hanya bisa 100 meter saja. Sehingga pesawat tidak berani untuk landing,” kata Norsan di Pontianak, Kamis (3/9/2026).
Kunjungan Raja Juli ke Kalbar pun ditunda hingga kondisi cuaca dan jarak pandang memungkinkan. Jika belum memungkinkan, kunjungan tersebut akan dijadwalkan kembali paling lambat pada hari berikutnya.
Baca juga : Diperiksa Kejagung Soal Pencucian Uang, Febrie Pilih Bungkam
Raja Juli sedianya meninjau tiga lokasi terdampak karhutla, yakni kawasan Limbung, sekitar SMA Negeri 4, dan Rasau Jaya. Pemerintah Kalbar juga telah menyiapkan langkah untuk memperkuat penanganan kebakaran.
Sementara di Riau, Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin menerbangkan pesawat tempur F-16 untuk memantau kondisi karhutla. Patroli udara dilakukan rutin setiap hari sekaligus menjadi bagian dari latihan terbang Skadron Udara 16.
Danlanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Abdul Haris mengatakan, pemantauan dari udara dilakukan untuk mencocokkan data titik panas dan titik api yang terdeteksi melalui aplikasi dengan kondisi riil di lapangan.
“Penerbangan F-16 ini kami lakukan secara rutin untuk memantau titik api maupun titik panas. Hasil pemantauan ini nantinya kami teruskan ke Satgas Darat untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya,” kata Abdul Haris.
Baca juga : Anggota DPRD Bengkulu Diduga Terima Uang Proyek Dinas PUPR
Data hasil pemantauan kemudian diteruskan kepada Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin untuk dikoordinasikan dan dilaporkan kepada BPBD Riau. Informasi tersebut menjadi dasar Satgas Karhutla dalam menentukan langkah pemadaman di lapangan.
Titik api yang terpantau dari udara diklasifikasikan berdasarkan skalanya, mulai dari kecil, sedang, hingga besar. Lokasi yang membutuhkan penanganan segera dapat ditindaklanjuti melalui pemadaman darat maupun water bombing menggunakan helikopter BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI AU.
Asap karhutla saat ini masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kalimantan. BNPB mencatat, hingga Kamis (3/9/2026), Kalbar memiliki 46 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 528 hektare.
Dari luasan tersebut, lebih dari 354 hektare telah berhasil dipadamkan. Namun, kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada kategori berbahaya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer.
Baca juga : Politisi Gerindra Kawal Total Revisi UU Kadin
“Di Kalimantan Barat kita menemukan ada 46 titik api dengan luas terbakar sebesar 528 hektare lebih dan tim kita berhasil memadamkan 354 hektare lebih dan kualitas udara masih berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 km,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Menurut Berton, pemadaman di Kalbar menghadapi kendala karena sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Api dapat merambat dan bertahan hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Selain Kalbar, kebakaran juga terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Di Kalteng terdapat 72 titik api dengan luas lahan terbakar sekitar 739 hektare, sedangkan di Kalsel tercatat 31 titik api dengan luas kebakaran sekitar 551 hektare.
Di Riau, jumlah titik api memang turun menjadi enam titik. Namun, luas lahan yang terbakar masih mencapai sekitar 159 hektare dan baru sekitar 39 hektare yang berhasil dipadamkan. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.