Sebelumnya
Mas Dar kembali menegaskan, agar seluruh jajaran BGN dan SPPG mematuhi juklak dan juknis program MBG. Setiap makanan juga wajib diberi label dengan data yang diisi secara benar untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Dia juga menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menyebabkan ratusan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan. “Permohonan maaf saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan hal-hal yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memastikan, seluruh biaya pengobatan ratusan santri dan siswa yang menjadi korban ditanggung negara melalui anggaran pemerintah daerah. Prioritas Pemprov Jawa Timur saat ini, kata dia, memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis secara maksimal di berbagai fasilitas kesehatan.
Baca juga : Pesawat Tempur F-16 Diterjunkan Cek Karhutla
“Fokus kami anak-anak kita mendapat penanganan sebaik mungkin. Biaya perawatan ditanggung negara,” ujar Emil usai menghadiri rapat paripurna di Gedung DPRD Jawa Timur, Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Emil menjelaskan, biaya perawatan korban tidak menggunakan skema BPJS Kesehatan. Kasus tersebut memiliki mekanisme pembiayaan khusus di luar pertanggungan standar BPJS.
Biaya pengobatan akan diintegrasikan ke dalam anggaran rumah sakit milik pemerintah dengan dukungan APBD Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kesehatan.
Baca juga : Diperiksa Kejagung Soal Pencucian Uang, Febrie Pilih Bungkam
Menurut Emil, kondisi APBD Jawa Timur memadai untuk menanggung biaya pengobatan seluruh korban. Pemprov juga menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mengantisipasi kebutuhan tambahan jika alokasi Dinas Kesehatan tidak mencukupi.
Diketahui, kasus Sidoarjo bermula pada Selasa (1/9/2026) siang. Sebanyak 1.000 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, menerima makanan MBG yang diproduksi SPPG Kalitengah.
Menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel. Para santri kemudian menyantap makanan itu sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.
Baca juga : Anggota DPRD Bengkulu Diduga Terima Uang Proyek Dinas PUPR
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengalami mual, pusing, muntah, diare hingga sesak napas. Jumlah korban kemudian terus bertambah dan para santri dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.