RM.id Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pengecekan terhadap data monitoring kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, dan magnet bumi untuk menindaklanjuti informasi masyarakat mengenai suara dentuman yang terdengar di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Jumat-Sabtu, 4-5 September 2026, sekitar pukul 23.00-05.00 WIB.
Berikut hasil pengecekan BMKG, sebagaimana disampaikan Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung Suaidi Ahadi dalam konferensi pers virtual pada Sabtu (6/9/2026):
1. Cuaca Bandung Raya Terpantau Cerah
Kondisi cuaca di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, pada periode tersebut secara umum terpantau cerah. Arah angin bertiup dari timur ke barat. BMKG juga mencatat terbentuknya awan vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau.
2. Tak Ada Aktivitas Seismik di Bandung Raya
Berdasarkan hasil pemantauan data kegempaan BMKG, tidak terdeteksi adanya aktivitas seismik (kegempaan) di wilayah Bandung dan sekitarnya. Namun, berdasarkan catatan seismogram di Pulau Sibesi, teramati adanya anomali yang tercatat pada pukul 16.08 UTC dan 16.32 UTC (23.08 dan 23.32 WIB).
Baca juga : Heboh Suara Dentuman di Jawa Barat hingga Lampung, Ini Penjelasan PVMBG
Anomali tersebut masih memerlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik, sumber, serta keterkaitannya dengan suara dentuman yang dilaporkan masyarakat.
3. Anomali Magnet Bumi di Sukabumi dan Serang
Berdasarkan pemantauan data magnet bumi pada periode 4 September 2026 pukul 23.00 WIB hingga 5 September 2026 pukul 02.00 WIB, teramati adanya gangguan atau anomali yang terekam pada stasiun magnet bumi Sukabumi dan Serang.
BMKG tidak menemukan adanya aktivitas badai matahari. Sehingga, anomali diperkirakan berasal dari dalam bumi.
"Namun, berdasarkan data yang tersedia saat ini, gangguan atau anomali magnet bumi tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan dengan penyebab suara dentuman yang dilaporkan masyarakat," kata Suaidi.
4. Aktivitas Petir di Bandung Relatif Rendah
Baca juga : Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus Sejak Jumat Malam
Berdasarkan pemantauan Lightning Detector BMKG di wilayah Bandung dan sekitarnya, tercatat adanya aktivitas petir, dengan intensitas yang relatif rendah. Tidak menunjukkan aktivitas yang signifikan sebagaimana dilaporkan masyarakat.
5. Petir Signifikan Terdeteksi di Sekitar Anak Krakatau
Hasil pemantauan Lightning Detector di sekitar Gunung Anak Krakatau menunjukkan adanya aktivitas petir yang cukup signifikan pada periode yang berdekatan dengan waktu kejadian.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga terdeteksi melalui data pemantauan BMKG, termasuk citra satelit. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk memastikan sumber suara dentuman.
6. Arah Angin Membuat Sumber Dentuman Masih Perlu Dikaji
Suaidi mengatakan arah angin saat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau bertiup dari timur ke barat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan, dalam mengkaji kemungkinan sumber suara dentuman.
Baca juga : Cuaca Besok Jakarta Kompak Mendung, Pantau Info BMKG Sebelum Libur Akhir Pekan
"Pada saat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, arah angin bergerak dari timur ke barat. Sehingga, kemungkinan suara dentuman berasal dari sumber lain, dan masih memerlukan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan data lainnya," pungkas Suaidi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.