BREAKING NEWS
 

Presiden Bicara Bencana: Takdir Kita Ada di Ring of Fire

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 8 September 2026 08:41 WIB
Presiden Prabowo Subianto memimpin Rapat Terbatas penanganan sejumlah bencana secara virtual melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9/2026). (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, mengingat Indonesia ditakdirkan berada di ring of fire atau cincin api.

Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat memimpin Rapat Terbatas penanganan sejumlah bencana seperti gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera, serta erupsi Gunung Anak Krakatau. Rapat digelar secara virtual melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Dalam rapat ini, Prabowo didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Kepala Badan Logistik Pertahanan (Kabaloghan) Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Yusuf Jauhari. Di layar monitor terdapat sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, Kapolri, dan kepala daerah yang wilayahnya terdampak bencana.

"Saya mengundang rapat melalui konferensi video, saya hanya ingin monitor bagaimana perkembangan sekaligus mendengar situasi yang terkini," ucap Prabowo, membuka rapat tersebut.

Kepala Negara lalu berbicara mengenai sejumlah situasi yang menjadi perhatian Pemerintah. Mulai dari penanganan pascagempa di NTT, aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga karhutla beserta dampak asap.

Prabowo menegaskan, posisi Indonesia yang berada di kawasan cincin api menuntut seluruh pihak untuk selalu siap menghadapi potensi bencana. "Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api, the ring of fire. Jadi, ini membawa kita untuk siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat," ucapnya.

Berangkat dari berbagai pengalaman penanganan bencana, Prabowo meminta kapasitas mitigasi nasional harus terus diperkuat. Pemerintah pun akan meningkatkan alokasi anggaran memiliki kesiapan yang lebih besar sebelum bencana terjadi.

Baca juga : Menkes Ungkap Bahaya Abu Vulkanik, Keluar Rumah Pakai Masker

"Saya kira dalam menghadapi keadaan ke depan kita akan lebih mampu," ujarnya.

Prabowo menilai, respons Pemerintah dalam menangani sejumlah bencana sebelumnya menunjukkan peningkatan. Baik dari sisi kecepatan maupun skala penanganan. Ia mencontohkan penanganan bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dilakukan dengan mengerahkan kekuatan nasional secara massif.

"Menurut saya, kita cukup berhasil, kita atasi. Saya ucapkan terima kasih ke semua unsur," ucapnya.

Dalam menghadapi karhutla, Prabowo meminta pola penanganan semakin konkret. Dari yang semula bersifat reaktif menjadi lebih antisipatif.

Prabowo melanjutkan, perencanaan kesiapsiagaan harus memastikan sarana dan peralatan telah tersedia jauh sebelum bencana terjadi. Mulai dari helikopter, pompa air, kendaraan pemadam kebakaran, hingga ekskavator di wilayah-wilayah rawan.

"Dalam perencanaan, kita gunakan prinsip lebih baik lebih daripada kurang. Artinya, nanti Menteri Sesneg siapkan juga, beritahu Menteri Keuangan, Kepala Bappenas. Lebih banyak helikopter lebih baik, lebih banyak pompa air lebih baik, lebih banyak pemadam kebakaran lebih baik," jelasnya.

Adsense

Mantan Menteri Pertahanan ini juga meminta penyusunan master plan mitigasi bencana yang menyeluruh dan massif. Penguatan kesiapsiagaan itu antara lain mencakup pemanfaatan kapal induk yang akan dimodifikasi untuk mendukung operasi helikopter dan drone. Kemudian, penambahan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, serta pengembangan teknologi drone untuk mendukung pemadaman dari udara.

Baca juga : Alhamdulillah, Bank Dalam Kondisi Baik

"Kita persiapan mengatasi dan mitigasi itu jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya kita siapkan," tegas Prabowo.

Mengenai gempa di NTT, Prabowo ingin memastikan kebutuhan dasar masyarakat di seluruh kabupaten terdampak dapat segera dipulihkan. Terutama di wilayah yang belum dikunjunginya secara langsung.

Dalam rapat ini, Prabowo juga meminta laporan secara berjenjang dari Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Geologi Kementerian ESDM, TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto melaporkan, jumlah pengungsi di NTT berangsur menurun. "Masyarakat yang rumahnya rusak ringan dan rusak sedang mulai dikembalikan ke rumahnya masing-masing, seiring dengan kondisi gempa yang semakin menurun," ujar Suharyanto.

Ia mengatakan, dari sebelumnya sebanyak 179.037 jiwa, jumlah warga yang masih berada di pengungsian kini tersisa 72.864 jiwa. Mereka umumnya merupakan warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.

BNPB mulai menyiapkan hunian sementara (huntara) bagi para penyintas yang rumahnya rusak berat. Selain pembangunan huntara, Pemerintah juga memberikan dana tunggu hunian kepada masyarakat terdampak. "Secara bertahap sedang kami bangunkan hunian sementara ataupun diberikan dana tunggu hunian," ujarnya.

Jumlah alat utama yang disiagakan untuk penanganan darurat juga dikurangi. Dari sebelumnya puluhan unit, kini tersisa satu pesawat Cessna milik BNPB dan satu helikopter. "Hanya dua unit untuk antisipasi apabila diperlukan dalam kondisi darurat," tuturnya.

Baca juga : Tol Palembang-Prabumulih Ditutup, Asap Karhutla Belum Reda

Suharyanto juga melaporkan jumlah korban meninggal dunia secara langsung akibat gempa mencapai 48 orang. Tidak terdapat tambahan korban meninggal akibat gempa susulan. Namun, tercatat 87 orang meninggal dunia akibat penyebab tidak langsung seperti penyakit, proses perawatan, maupun sebab alami lainnya.

Selain penanganan di NTT, Pemerintah juga memperkuat kesiapan anggaran untuk menghadapi berbagai bencana yang terjadi di sejumlah daerah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, pihaknya menyiapkan skema pengajuan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) apabila dana penanganan bencana yang tersedia tidak mencukupi.

"Kalau tidak cukup, kita mengajukan Anggaran Biaya Tambahan. Nanti nilainya sesuai dengan kebutuhan dan dikaji bersama Kementerian Keuangan," ucap Gus Ipul, sapaan Mensos.

Menurutnya, kebutuhan anggaran penanganan bencana sangat dinamis. Sebab, kejadian seperti gempa bumi, erupsi gunung api, dan kekeringan kerap terjadi secara mendadak sehingga sulit diprediksi dalam perencanaan anggaran reguler.

Gus Ipul juga menegaskan, pihaknya siap memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak erupsi gunung api di sejumlah wilayah. Di antaranya Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT, dan Gunung Ibu di Maluku.

"Masih tersedia, mencukupi yang dari gudang logistik Kementerian Sosial. Namun bencana datang kadang-kadang mendadak sehingga belum kita rencanakan. Karena itu, sangat dimungkinkan untuk meminta tambahan dana," ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense