Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menkes Ungkap Bahaya Abu Vulkanik, Keluar Rumah Pakai Masker
Senin, 7 September 2026 08:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap bahaya vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bagi kesehatan. Menkes meminta warga membatasi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa keluar rumah, gunakan masker.
“Kalau Bapak/Ibu harus keluar rumah, pastikan memakai masker. Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke Puskesmas terdekat,” ucap Menkes, dalam konferensi pers secara daring, Minggu (6/9/2026).
Selain pernapasan, mata juga rentan terkena abu vulkanik. Menkes menyarankan warga yang keluar ruangan mengenakan kaca mata. Jika mata terkena abu, jangan dikucek. Mata sebaiknya segera dibersihkan menggunakan air. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyiapkan obat tetes mata di puskesmas untuk menangani iritasi akibat paparan abu vulkanik.
Menkes menambahkan, paparan abu juga dapat mengganggu kulit. Karena itu, warga yang beraktivitas di luar rumah perlu segera membersihkan tubuh setelah kembali ke rumah.
Ia mengingatkan, proses pembersihan harus dilakukan dengan hati-hati. “Pastikan dibersihkan dengan air, dengan hati-hati karena mungkin saja ada beberapa partikelnya yang tajam,” ujarnya.
Baca juga : Alhamdulillah, Bank Dalam Kondisi Baik
Untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat erupsi, Kemenkes juga telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan pelayanan kesehatan sekaligus mengantisipasi kemungkinan peningkatan pasien.
Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak juga telah disiapkan. Puskesmas dilengkapi alat bantu seperti nebulizer dan konsentrator oksigen untuk menangani warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Lebih lanjut, Menkes meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada dengan mengurangi aktivitas di luar rumah selama terjadi sebaran abu.
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Ari Fahrial Syam menyampaikan hal serupa. Ia menerangkan, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Ketika mengenai mata, dapat menyebabkan perih, merah, dan berair. Kalau mengenai kulit, dapat timbul rasa gatal dan iritasi.
“Sementara, ketika partikel terhirup, masyarakat dapat mengalami batuk, rasa tidak nyaman di tenggorokan, hingga sesak napas,” ujar Ari, dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Baca juga : Dunia Terancam Badai, Banjir & Kekeringan
Ia mengingatkan, gangguan akibat abu vulkanik tidak selalu muncul saat paparan terjadi. Partikel yang terhirup dapat bertahan di saluran pernapasan dan memicu iritasi serta peradangan.
“Gangguan saluran pernapasan bawah dapat muncul kemudian, termasuk dalam satu hingga dua minggu setelah paparan,” ungkapnya.
Karena itu, ia menyarankan warga yang mengalami batuk semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisik memburuk setelah terpapar abu vulkanik untuk segera memeriksakan diri. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan yang lebih serius pada paru-paru.
Ari juga menungkap kandungan material dalam abu vulkanik. Abu vulkanik Anak Krakatau diketahui mengandung senyawa silika. Ia menjelaskan, paparan silika dalam jumlah besar dan berlangsung lama dapat menyebabkan silikosis, yakni penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang memicu peradangan dan terbentuknya jaringan parut pada paru.
“Namun, risiko ini tentu bergantung pada komposisi abu, ukuran partikel, konsentrasi yang terhirup, serta intensitas dan lamanya paparan,” terangnya.
Baca juga : Banyak Siswa Keracunan MBG, Wamenkes: Belum Masuk Status KLB
Tak hanya berdampak langsung pada manusia, abu vulkanik juga dapat menimbulkan persoalan lanjutan. Ari menjelaskan, abu yang mencemari sumber air bersih, tanaman, hingga hewan pada akhirnya dapat kembali berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Karena itu, penanganan dampak erupsi tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor untuk memantau dampak abu secara menyeluruh.
“Tenaga kesehatan, ahli lingkungan, vulkanologi, Pemerintah Daerah, serta berbagai pihak terkait perlu bekerja bersama untuk menilai dampaknya secara menyeluruh,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya