BREAKING NEWS
 

ABK Arupadatu I Ditemukan di Enggano, Bagaimana Arus Membawanya Sejauh Itu?

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 25 September 2026 12:12 WIB
Keluarga korban kapal Speed Boat Arupadatu melaksanakan tabur bunga di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Jumat (18/9/2026). (Foto: Polda Banten)

 Sebelumnya 
Daryono menerangkan, topografi Selat Sunda semakin membuat persoalan ini kompleks. Keberadaan pulau-pulau seperti Krakatau, Sebesi, Sebuku dan Sertung, penyempitan selat, serta variasi kedalaman dasar laut dapat membelokkan dan mempercepat arus serta membentuk pusaran atau arus balik lokal.

Akibatnya, dua benda yang awalnya berdekatan, beberapa hari kemudian dapat mempunyai lintasan yang sangat berbeda.

Satu dapat tertahan atau berputar di sekitar selat, sementara yang lain masuk ke arus utama dan terbawa jauh ke Samudra Hindia.

"Inilah sebabnya, temuan korban di Enggano tidak boleh ditafsirkan secara sederhana dengan menarik garis lurus dari Anak Krakatau menuju Enggano. Yang jauh lebih ilmiah adalah menggunakan lokasi dan waktu penemuan tersebut sebagai titik validasi oseanografis," tutur Daryono. 

Baca juga : 1 ABK Ditemukan Di Pulau Enggano

Menurutnya, data arus, pasang-surut, angin, dan gelombang sejak kapal hilang dapat dimasukkan ke dalam model hindcast untuk menjalankan simulasi partikel. Simulasi tersebut dapat dibuat maju dari lokasi terakhir kapal, maupun mundur dari lokasi korban ditemukan.

"Jika banyak simulasi menghasilkan lintasan yang konsisten antara kawasan Selat Sunda dan Enggano, kita dapat membangun koridor probabilitas hanyutan," ujar Daryono.

"Koridor inilah yang lebih berguna daripada sekadar menarik garis lurus, karena dapat menunjukkan wilayah laut mana yang secara fisik paling mungkin dilewati korban, dan ke mana benda terapung lainnya mungkin terus bergerak," imbuhnya.

Daryono menekankan, ditemukannya korban di Enggano merupakan bukti lapangan penting bahwa kemungkinan transport dari Selat Sunda menuju Samudra Hindia harus diperhitungkan secara serius.

Baca juga : Benarkah Gunung Anak Krakatau Kini Punya Cucu? Simak Penjelasan Ahli

Namun, temuan satu korban belum membuktikan bahwa korban lainnya maupun kapal mengikuti jalur yang sama. Setelah berhari-hari di laut, perbedaan kecil pada posisi awal, waktu masuk ke arus utama, daya apung, angin dan gelombang dapat menghasilkan penyebaran yang semakin lebar. 

"Karena itu, pencarian korban lainnya idealnya menggunakan kombinasi hindcast arus–angin–gelombang, simulasi hanyutan partikel, dan data lokasi temuan korban di Enggano sebagai titik kalibrasi atau validasi model," pungkasnya.

 

 

Baca juga : Basarnas Belum Buka Lagi Operasi Pencarian KM Arupadatu 1

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense