RM.id Rakyat Merdeka - Mandat baru Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dinilai membuka peluang besar untuk mempercepat transformasi kekayaan mineral Indonesia menjadi basis industri energi masa depan.
Besarnya produksi nikel, disusul berkembangnya hilirisasi tembaga, emas, dan bauksit, dinilai menjadi modal penting untuk membangun industri baterai, kendaraan listrik, energi surya, hingga industri berbasis teknologi di dalam negeri.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto mengatakan, penggabungan agenda hilirisasi dan transisi energi merupakan langkah strategis.
Sebab, ekspansi industri pengolahan mineral membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar. Karena itu, kebijakan industrialisasi dan penyediaan energi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
"Ini sangat strategis karena hilirisasi mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar. Tantangannya adalah memastikan tambahan kapasitas industri tidak justru meningkatkan ketergantungan pada energi fosil," kata Wahyudi saat dihubungi, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, hilirisasi dan transisi energi perlu dirancang dalam satu ekosistem. Dengan begitu, pertumbuhan industri dapat diikuti penyediaan energi yang semakin efisien, andal, dan rendah karbon. Integrasi tersebut semakin penting mengingat investasi hilirisasi pada semester I-2026 telah mencapai Rp 300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Wahyudi menilai, perkembangan industri nikel menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan agenda tersebut. Produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023, atau sekitar 41 persen dari produksi dunia.
Baca juga : Cak Imin Dorong Perumahan Jadi Mesin Ekonomi, Bukan Sekadar Hunian
Perkembangan tersebut, menurutnya, menunjukkan perubahan signifikan posisi Indonesia. Dari semula hanya sebagai pemasok bahan mentah, kini Indonesia mulai menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok mineral global.
"Pekerjaan berikutnya adalah memastikan nilai tambah semakin banyak tinggal di dalam negeri melalui penguatan industri baterai, transfer teknologi, riset, dan keterlibatan perusahaan nasional," ujarnya.
Hilirisasi juga mulai berkembang pada berbagai komoditas mineral lainnya. Smelter Freeport di Gresik memiliki kapasitas pengolahan sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun.
Fasilitas tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 800 ribu ton katoda tembaga dan 50 ton emas per tahun. Sementara itu, Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Wahyudi menilai, pengembangan nikel, tembaga, emas, dan bauksit secara bersamaan dapat memperluas basis industrialisasi Indonesia.
Nikel dapat menjadi basis pengembangan baterai dan kendaraan listrik. Tembaga menopang industri elektronik dan kelistrikan. Sedangkan bauksit dapat dikembangkan menjadi aluminium dan berbagai produk manufaktur.
"Diversifikasi hilirisasi ini penting karena Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas. Nikel, tembaga, bauksit, dan emas memiliki rantai nilai yang berbeda dan dapat menjadi fondasi industri manufaktur, elektronik, energi, hingga kendaraan listrik," kata Wahyudi.
Baca juga : Menko AHY Jajaki Teknologi Baterai Raksasa Di Swiss, Stabilkan Listrik Jawa-Bali
Wahyudi mengatakan, posisi Bahlil sebagai Menko sekaligus Menteri ESDM juga membuka peluang untuk mengintegrasikan kebijakan pertambangan, energi, hilirisasi, dan investasi dari hulu hingga hilir.
Dengan demikian, besarnya investasi yang masuk tidak berhenti sebagai angka investasi semata, tetapi menghasilkan efek berganda melalui pertumbuhan industri pendukung, penciptaan lapangan kerja, penguasaan teknologi, serta pengembangan kawasan industri.
Pandangan senada disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof. Ir. ING Wardana. Menurutnya, penyatuan koordinasi hilirisasi dan transisi energi sangat strategis karena kekayaan mineral Indonesia dapat menjadi fondasi pembangunan ekosistem energi hijau nasional.
Integrasi tersebut, kata Wardana, berpotensi menciptakan ekosistem industri baru sekaligus membuka lapangan kerja dalam jumlah besar.
"Sangat strategis karena hilirisasi mineral strategis seperti nikel, bauksit, dan tembaga bisa membentuk ekosistem produksi energi hijau," ujar Wardana.
Selain hilirisasi, Wardana menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu agenda penting yang perlu dikejar Bahlil. Pemerintah saat ini menjalankan program B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
Menurut Wardana, kebijakan tersebut dapat diperkuat melalui pengembangan etanol berbasis bahan baku domestik seperti tebu, singkong, dan jagung.
Baca juga : Pemerintah Siapkan Strategi Ekonomi 2027
"Jika program tanam tebu, singkong, dan jagung untuk etanol berhasil dan bisa membuat program E20, E30, atau E50 berhasil, bersama dengan B50 kita sudah bisa mandiri energi, tidak perlu impor BBM," ujarnya.
Wardana menilai, pengurangan impor energi layak menjadi salah satu indikator utama keberhasilan Bahlil dalam menjalankan mandat barunya.
Setelah itu, indikator lainnya adalah penciptaan lapangan kerja serta kemampuan Indonesia menyerap dan menguasai teknologi.
"Yang paling utama adalah pengurangan impor energi karena menyedot banyak devisa. Berikutnya adalah pembukaan lapangan kerja, yang ketiga transfer teknologi, baru yang lain-lainnya," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.