BREAKING NEWS
 

Bulir, Tanah, dan Sunyi: Swasembada Pangan sebagai Bahasa Kemerdekaan

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Sabtu, 17 Oktober 2026 07:24 WIB
Petani menanam padi di area persawahan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (10/5/2025). Pemerintah terus mendorong upaya swasembada pangan dan penguatan hilirisasi di sektor pertanian sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional dan peningkatan daya saing produk agroindustri. (Foto: Randy Tri Kurniawan/Rakyat Merdeka)

 Sebelumnya 
Pada akhirnya, swasembada delapan komoditas pangan merupakan komitmen peradaban. Kebijakan terintegrasi yang ditempuh pemerintah menunjukkan pentingnya kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari gejolak zaman.

Namun, perjalanan menuju kedaulatan pangan yang kokoh masih panjang. Kita tidak cukup hanya berpikir tentang kecukupan pangan hari ini.

Kita juga harus memikirkan keberlanjutan tanah, ketersediaan air, kelestarian lingkungan, serta regenerasi petani untuk puluhan tahun mendatang.

Tanah yang terus-menerus kehilangan kesuburan, sumber air yang menyusut, dan lahan pertanian yang semakin terdesak oleh pembangunan dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi pangan.

Baca juga : Survei Arawicaksa: Swasembada Pangan Unggul, Publik Apresiasi Program Prabowo

Begitu pula dengan persoalan regenerasi petani. Jika generasi muda tidak melihat masa depan yang menjanjikan di sektor pertanian, siapa yang akan memastikan sawah-sawah Indonesia tetap menghasilkan pangan pada masa mendatang?

Oleh karena itu, swasembada harus dipahami sebagai titik tolak, bukan garis akhir.

Capaian produksi perlu dijaga melalui kebijakan yang konsisten, penguatan kapasitas petani, pemanfaatan teknologi yang sesuai kebutuhan, serta perlindungan terhadap sumber daya alam.

Negara juga perlu memastikan bahwa keberhasilan hari ini tidak dibayar dengan kerusakan lingkungan yang akan ditanggung generasi berikutnya.

Baca juga : Wamenkop: Indonesia & ASEAN Perkuat Koperasi Wujudkan Swasembada Pangan

Kedaulatan pangan yang mengabaikan keberlanjutan hanya akan melahirkan persoalan baru di kemudian hari.

Di tengah riuhnya narasi pembangunan dan tantangan globalisasi, capaian swasembada mengingatkan kita pada sebuah pesan yang sederhana, tetapi mendalam: kekuatan terbesar sebuah bangsa tidak hanya terletak pada megahnya benteng pertahanan, tetapi juga pada hamparan sawah yang hijau, lumbung pangan yang terisi, dan senyum petani yang menatap masa depan dengan penuh kepastian.

Karena itu, capaian swasembada pangan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak seharusnya sekadar menjadi catatan kaki dalam laporan pembangunan.

Capaian ini layak dicatat sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa, sekaligus menjadi pengingat bahwa kedaulatan sejati harus dirasakan hingga ke desa-desa, di tangan para petani, dan di meja makan setiap keluarga Indonesia.

Baca juga : Perkuat Penyuluh Pertanian, Amran-Tito Terbitkan Surat Edaran Bersama

Sebab, di balik setiap bulir beras, ada tanah yang harus dijaga, ada petani yang harus disejahterakan, dan ada masa depan bangsa yang dipertaruhkan.

Oleh: Jerry Indrawan

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense