BREAKING NEWS
 

Prof Didik Kenang Peran Widodo AS dalam Reformasi TNI

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Minggu, 25 Oktober 2026 18:17 WIB
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengenang peran Laksamana TNI (Purn) Widodo AS dalam mengawal reformasi Tentara Nasional Indonesia (TNI), terutama pada masa transisi dari pemerintahan Orde Baru menuju demokrasi pada 1998.

Didik mengatakan Widodo AS memiliki peran penting dalam proses penataan ulang institusi militer, termasuk pembahasan agenda reformasi dalam Sidang Istimewa MPR 1998. Peran tersebut dinilainya krusial dalam mendorong perubahan posisi militer agar kembali berfokus pada pertahanan negara.

“Peranannya sebagai unsur TNI dalam Sidang Istimewa MPR RI Tahun 1998 sangat krusial karena tahun 1998 merupakan titik balik sejarah Indonesia,” kata Didik dalam tulisannya untuk mengenang Widodo AS, Minggu (25/10/2026).

Didik yang ketika itu menjadi anggota MPR mengaku mengikuti langsung rangkaian sidang bersama Widodo AS. Menurut dia, Widodo terlibat dalam pembahasan rancangan ketetapan reformasi yang menjadi bagian dari upaya mengubah tatanan politik dan kelembagaan negara setelah kejatuhan Presiden Soeharto.

Baca juga : Mantan Menko Polhukam Widodo AS Meninggal di Usia 82 Tahun

Widodo AS, yang saat itu memimpin Panitia Ad Hoc (PAH) II Badan Pekerja MPR, turut mengawal pembahasan perubahan peran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam kehidupan bernegara.

Didik menjelaskan, agenda reformasi tersebut mencakup penataan institusi militer, pemisahan Polri dari TNI, serta pengurangan keterlibatan militer dalam politik praktis. Perubahan itu menjadi bagian dari upaya membangun sistem demokrasi yang menempatkan militer di bawah kendali pemerintahan sipil.

Setelah Sidang Istimewa MPR 1998, Widodo AS kembali dipercaya menjalankan peran penting ketika Presiden Abdurrahman Wahid mengangkatnya sebagai Panglima TNI pada Oktober 1999.

Adsense

Dalam posisi tersebut, Widodo mengemban tugas mengawal perubahan institusi militer agar lebih berorientasi pada pertahanan negara. Sementara itu, tugas keamanan dalam negeri dan pemeliharaan ketertiban masyarakat menjadi ranah kepolisian.

Baca juga : IHSG Anjlok, Prof Didik Singgung Soal Trust

Pemisahan TNI dan Polri kemudian ditegaskan melalui Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2000. Langkah tersebut menjadi salah satu tonggak reformasi sektor keamanan setelah berakhirnya pemerintahan Orde Baru.

Selain pemisahan kedua institusi, reformasi juga mendorong penghapusan praktik kekaryaan yang sebelumnya memungkinkan perwira militer aktif menduduki berbagai jabatan sipil. Menurut Didik, perubahan itu merupakan bagian dari upaya mengembalikan militer pada fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara.

Didik menilai Widodo AS turut meletakkan fondasi bagi terbentuknya militer profesional yang tunduk pada keputusan politik pemerintahan sipil yang sah. Ia juga menyoroti peran Widodo dalam mengurangi dominasi kultur militer yang selama Orde Baru berkaitan erat dengan urusan sosial dan politik.

Namun, Didik mengingatkan bahwa semangat reformasi tersebut perlu terus dijaga. Ia menilai perkembangan hubungan antara militer, kepolisian, dan ranah sipil menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan demokrasi Indonesia.

Baca juga : Prof Didik Soroti Penghentian Proyek Data Center, Singgung Semikonduktor

Menurut dia, pengalaman reformasi yang dikawal Widodo AS menunjukkan pentingnya supremasi sipil dan pembatasan peran militer dalam politik praktis.

Widodo AS meninggal dunia pada Sabtu (24/10) pukul 21.30 WIB di Jakarta dalam usia 82 tahun setelah mengalami sakit. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Minggu (25/10/2026).

Didik menyebut kepergian Widodo AS menjadi kehilangan bagi Indonesia, khususnya dalam mengingat kembali tokoh militer yang berperan dalam proses reformasi.

“Dulu, Widodo AS berhasil mengawal transisi reformasi dengan menegakkan demokrasi dan supremasi sipil. Tetapi kini kita belum menemukan lagi tentara reformis seperti Widodo AS,” tulis Didik, yang pernah menjadi anggota MPR pada Sidang Istimewa MPR 1998.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense