Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Persib Siap Ukir Sejarah di ACC 2026/27
- Dedi Kusnandar Doakan Timnas Indonesia Juara
- Magnitudo Gempa Hari Ini Di Sumba Tercatat Yang Terbesar Dalam Sepekan Terakhir
- Harry Kane Puji Lini Serang Inggris Usai Hancurkan Kroasia 7-0
- Gagal Emas di Asian Games, Bintang/Sofyan Langsung Kejar Tiket Olimpiade
Prof Didik Soroti Penghentian Proyek Data Center, Singgung Semikonduktor
Minggu, 4 Oktober 2026 10:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini mengingatkan, pemerintah agar tidak mengulangi kesalahan kebijakan masa lalu yang membuat Indonesia kehilangan peluang investasi industri semikonduktor, di tengah besarnya peluang investasi pusat data (data center) saat ini.
Didik menilai, Indonesia kini menghadapi peluang besar dengan potensi investasi data center dan kecerdasan buatan (AI) yang diperkirakan mencapai Rp 360 triliun. Menurut dia, peluang tersebut harus dijaga dengan kebijakan yang mampu memberikan kepastian dan kenyamanan bagi investor.
“Jangan sampai kita menjadi seperti pelanduk yang terperosok dua kali di lubang yang sama,” kata Didik dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).
Ia menjelaskan, Indonesia pada era 1970-an hingga awal 1980-an sempat menjadi salah satu negara yang memimpin perkembangan industri semikonduktor di Asia Tenggara. Sejumlah perusahaan teknologi dunia, seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto, bahkan sempat membangun basis perakitan chip di Jakarta dan Bandung.
Namun, menurut Didik, peluang tersebut kemudian hilang akibat perubahan dan konflik kebijakan terkait otomatisasi produksi pada 1985. Kebijakan yang mendorong penggunaan tenaga kerja manual dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan industri semikonduktor yang mengandalkan teknologi dan otomatisasi.“Akibat kebijakan yang kurang tepat, perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya hengkang dan memindahkan basis produksinya ke Penang, Malaysia,” ujarnya.
Baca juga : Industri Harus Tumbuh Dua Digit Untuk Kejar Ekonomi 8%
Didik mengatakan, pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran ketika Indonesia kembali memperoleh momentum investasi teknologi bernilai besar melalui pengembangan data center dan AI.
Menurut dia, minat investor terhadap Indonesia saat ini sudah cukup besar. Pemerintah juga telah menargetkan investasi data center AI senilai Rp 360 triliun masuk ke Indonesia.
Ia menyebut, Indonesia telah memiliki sedikitnya 182 data center yang beroperasi, dengan konsentrasi terbesar berada di Jakarta sebanyak 94 unit dan Batam sebanyak 16 unit.
Khusus Batam, investasi data center diperkirakan mencapai 15-20 miliar dolar AS dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Pertumbuhan ekonomi Batam yang mencapai sekitar 7 persen dinilai dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru berbasis ekonomi digital.
Didik menilai, peluang tersebut semakin besar karena Singapura mulai membatasi pembangunan data center baru akibat keterbatasan lahan dan energi. Kondisi itu membuka kesempatan bagi Batam untuk menjadi salah satu pusat data center di kawasan.
Baca juga : Prof Didik: PMA Kunci Batam Jadi “Dubai Kecil” Di Sumatera
“Batam bisa menjadi hub data center utama kawasan karena Singapura mulai membatasi pembangunan baru karena keterbatasan lahan dan energi,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal berupa pasar digital yang besar dengan lebih dari 200 juta pengguna internet. Sejumlah perusahaan teknologi global juga telah mengumumkan investasi untuk memperluas infrastruktur cloud dan AI di Indonesia.
Menurut Didik, pemerintah perlu memastikan peluang investasi tersebut tidak terhambat oleh kebijakan di tingkat daerah. Pemerintah pusat dan daerah perlu membangun iklim investasi yang memberikan kepastian bagi investor, termasuk terkait perizinan, energi, air, dan kebutuhan infrastruktur.
Ia menilai, kebijakan yang berubah atau penghentian proyek yang telah berjalan dapat memberikan sinyal negatif kepada investor dan berpotensi mengganggu kepercayaan terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi.
“Jangan sampai peluang emas ini kembali terbang seperti peluang industri semikonduktor pada masa lalu,” ujar Didik.
Baca juga : Prof Didik: Pendidikan Gratis Hingga PTN Bukan Hal Mustahil
Didik juga mendorong pemerintah untuk memastikan daerah-daerah yang menjadi tujuan investasi data center memiliki kebijakan yang ramah investasi. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi digital dan tidak kembali kehilangan posisi strategis di kawasan.
Kapasitas data center nasional diproyeksikan dapat melampaui 2.000 megawatt pada 2030, dengan permintaan yang tumbuh sekitar 16,8 persen per tahun berdasarkan proyeksi yang dikutip Didik.
Ia menegaskan, besarnya peluang tersebut harus diikuti kesiapan pemerintah dalam menyediakan kepastian kebijakan sehingga investasi teknologi bernilai besar dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia di kawasan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya