RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi 2020. Hasilnya, ekonomi Indonesia minus 2,07 persen. Meski masih minus, tim ekonomi yang dikomandoi, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto tidak waswas. Mereka justru melihat tanda-tanda ekonomi mulai bangkit lagi. Semoga saja, amin...
Pengumuman pertumbuhan ekonomi disampaikan Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, melalui jumpa pers virtual, kemarin.
Menurut dia, ini untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi ekonomi pasca krisis moneter 1998. “1998 itu karena krisis moneter, 2020 mengalami pandemi,” ujarnya.
Baca juga : Barcelona Masih Ngutang Sama Messi
Namun, kata dia, Indonesia tidak sendirian. Sejumlah negara justru lebih parah. Amerika Serikat misalnya, terkontraksi hingga minus 3,5 persen. Uni Eropa lebih mengkhawatirkan lagi. Perekonomian Benua Biru nyungsep minus 6,4 persen. Di bawahnya ada Hong Kong dengan minus 6,1 persen, Singapura minus 5,8 persen. Yang lebih baik dari Indonesia ada Korea Selatan yang minus 1,01 persen. sedangkan yang ekonominya tumbuh positif: Vietnam dan China.
Menurut Suhariyanto, baik buruknya ekonomi ke depan, tergantung dari penanganan pandemi Covid-19. Jika masyarakat patuh protokol kesehatan dan vaksinasi lancar, maka ekonomi akan melesat lagi. Karena itu, perlu kerja sama pemerintah dan masyarakat. “Kalau masyarakat tidak patuh, ini akan jadi hambatan besar,” warning-nya.
Lalu, apa reaksi pemerintah? Airlangga cukup tenang membaca angka-angka yang dirilis BPS. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi minus 2,07 persen justru menunjukkan ekonomi mengalami perbaikan. Pasalnya, minusnya terus berkurang. Pada kuartal II minus 5,32 persen, Kuartal III minus 3,49 persen, dan Kuartal IV minus 2,19 persen.
Baca juga : Ekonomi Mulai Siuman, Rupiah Menguat Tipis
Ketua Umum Golkar ini mengklaim, perbaikan ini tak lepas dari intervensi pemerintah. Hal itu nampak dari konsumsi pemerintah tumbuh 1,76 persen secara tahunan, realisasi program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Rp 579,78 triliun, dan realisasi belanja APBN 2020 sebesar 94,6 persen.
Kondisi ini meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi. Sehingga konsumsi rumah tangga terkontraksi minus 3,61 persen dan tumbuh positif 0,49 persen quarter to quarter dibandingkan triwulan sebelumnya.
Airlangga menargetkan, pertumbuhan ekonomi di 2021 berkisar antara 4,5-5 persen. Dia juga memprediksi ekonomi di kuartal I-2021 dapat tumbuh positif di kisaran 1,6-2,1 persen. Instrumennya, dengan menggenjot konsumsi rumah tangga di rentang 1,3-1,8 persen melalui program perlindungan sosial dan vaksinasi.
Baca juga : Lebih Ekonomis, Tantri Kotak Rajin Belanja Ke Pasar Tradisional
Selain itu, pemerintah juga akan memaksimalkan kinerja ekspor impor untuk menjaga pemulihan ekonomi. Caranya, dengan mengoptimalkan ekspor ke mitra dagang utama seperti Amerika, China, sampai Eropa. Begitu juga dengan optimalisasi peran APBN terhadap program PEN dan penanganan Covid-19. Hal ini dilakukan melalui refocusing dan realokasi dana kementerian/lembaga.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.