Sebelumnya
Hal senada disampaikan Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya. Tantowi mengatakan, Selandia Baru sukses mengatasi Covid-19, sehingga bisa melepas masker hingga menggelar konser pada April lalu. Apabila ditemukan kasus baru, langsung di karantina selama 14 hari.
"Rahasia suksesnya ada tiga kunci, persiapan, konsistensi dan partisipasi. Membuat undang-undang, penegakan hukum dan dukungan masyarakatnya meski berbeda pandangan politik. Selandia Baru juga membentuk Kementerian Covid, yang tugasnya ngurusin Covid-19 saja," kata Tantowi Yahya.
Wakil Dubes RI untuk Rusia Aziz Nurwahyudi mengatakan, kondisi masyarakat Rusia sebenarnya mirip di Indonesia, ada yang tidak percaya Covid-19 dan menolak untuk divaksin. Tak mengherankan apabila kasus Covid-19 di Rusia cukup tinggi, namun masih bisa dikendalikan.
Baca juga : Ini Syarat Pasien Covid-19 Bisa Dirawat Di RS Asrama Haji
"Vaksin itu tidak wajib di Rusia, hanya voluntary (sukarela) saja, habis divaksin mereka diberikan ice cream. Soal perkembangan Covid 19, hanya tiga orang yang boleh menyampaikan. Presiden Vladimir Putin, Juru Bicara Satgas Covid-19 dan Walikota Moskow," kata Aziz Nurwahyudi.
Selain itu, katanya, Rusia berhasil mengembangkan empat vaksin lokal, yakni Sputnik V, Sputnik Light, EpiVacCorona dan vaksin CoviVac.
"Soal vaksin ini Menlu Sergey Lavrov sudah bertemu Ibu Menlu (Retno Marsudi) dan BPOM juga sudah ke Rusia. Apakah, sudah bisa masuk Indonesia, kita tunggu saja," katanya.
Baca juga : Mau Lindungi Anak Dari Covid-19, Kurangi Makan-makan Di Luar!
Sementara itu, Atpol dan Ketua Satgas Covid-19 KBRI Washington DC Brigjen Pol Ary Laksmana Widjaya mengatakan, kasus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) pada awalnya tertinggi dunia.
Presiden Joe Biden kemudian membuat kebijakan, diantaranya memberikan kewenangan negara bagian untuk melakukan penanganan Covid-19.
"Pemerintah federal menyerahkan kepada pemerintah negara untuk menentukan status masing-masing. Tidak ada istilah lockdown, tapi ada pembatasan kegiatan, dan penanganannya berhasil. Ini sebagai kearifan lokal," kata Ary Laksmana Widjaya.
Baca juga : Mentan Ngebet Kerek Produktivitas Dan Kesejahteraan Petani
AS pun kini perlahan lahan terbebas dari Covid-19 dan mengubah status pandemi menjadi endemi.
Sedangkan untuk kebutuhan vaksin, perusahaan besar di AS berani menggelontorkan dana besar untuk melakukan kajian tentang vaksin.
"Hasilnya kita ketahui ada Pfizer, Moderna dan Johnson and Johnson, vaksinnya diakui dunia," katanya. [FAZ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.