Dewan Pers

Dark/Light Mode

Covid-19 dan Prabu Kian Santang

Jumat, 2 Juli 2021 06:00 WIB
Ngopi - Covid-19 dan Prabu Kian Santang
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Respons orang menanggapi kondisi Covid-19 beraneka ragam. Ada yang sibuk berpikir tentang menjaga kesehatan, kerjaan, dan bisnisnya. Tapi ada juga yang masih sibuk membenarkan pikirannya yang keliru seputar Covid- 19.

Di antara orang-orang ini ada yang bangga dengan pendapat bodohnya yang menyatakan penularan virus itu takdir. Maka tak perlu menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Lebih dari itu masih ada yang nggak percaya Covid-19.

Parahnya orang seperti ini sering menyebarkan pendapatnya yang keliru ke orang lain. Beberapa waktu lalu saat adik saya dirawat inap di rumah sakit (RS), saya kebagian giliran menjaga. Malam hari saya keluar RS untuk ngopi di lapak Starling. Si abang Starling sebut saja Ebon namanya. Dia menjual berbagai cemilan sehingga membuat saya betah ngemil sambil ngopi malam.

Saya buka obrolan tentang peluang usaha. Lama kelamaan obrolan mulai melebar ke pandemi Covid-19. Wah, Ebon ternyata orang yang percaya Covid-19. Tapi dia berpendapat tak usah patuhi Prokes menurutnya virus Covid- 19 itu sudah takdir jadi pasrah saja.

Berita Terkait : Ketipu Investasi Bodong

“Nggak usah pakai macam-macam mas. Virus itu kena siapa saja sudah takdir,” tegas Ebon menggebu.

Dalam hati saya eneg tapi satu lucu juga nyimak orang ini mengeluarkan pendapatnya yang keliru.

Pelan-pelan saya luruskan. Tapi tetap saja Ebon bertahan bahwa Prokes tak perlu. Saya sampai jadi mau nanya.

“Bang, pakai jaket malem gini biar kenapa bang?,”

Berita Terkait : Keranjingan Hamster

Sudah ketebak jawabannya karena dingin. Udara malam bisa bikin masuk angin. Makanya pakai jaket biar nggak masuk angin.

“Nah itu contoh bang. Biar nggak masuk angin pakai jaket. Biar gak kena Corona pakai masker sama-sama usaha menolak sakit kan,” kata saya.

Kenapa masuk angin nggak mau pasrah malah Covid-19 malah pasrah? Akhirnya Ebon alihkan obrolan Covid- 19 ke sejarah Prabu Kian Santang. Nampaknya dia mau kaitkan dengan Covid-19.

Saya langsung geleng-geleng mendengar jawabannya. Tak lama datang temannya Ebon, namanya si Udin. Nampaknya Udin pelanggan juga. Mereka berdiskusi. Sebelum penuturan Ebon makin ngelantur tentang Covid- 19 sampai Kian Santang saya pun pergi cari jajanan lain.

Berita Terkait : Terpaksa Panas-panasan Shalat Di Pelataran

Selain Ebon ada lagi yang pandangannya tentang Covid-19 masih ngelantur. Dia tetangga saya, anggap namanya Patrick (49). Doi nggak percaya Covid-19 padahal di sekitarnya sudah ada beberapa orang yang pernah positif Covid-19.

Saya baru tau Patrick tidak percaya Covid-19 sejak dirinya sendiri yang mengakui. Dia mengatakan itu di saat perbincangan antara bapak-bapak yang sedang membahas situasi lingkungan. Dalam diskusi kami terapkan Prokes memakai masker dan menjaga jarak. Tapi Patrick ini tidak pernah memakai masker karena nggak percaya Covid- 19. [Fajar El Pradianto /Wartawan Rakyat Merdeka]