Sebelumnya
Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan yang didapat dari Korlantas Polri, pelajar jadi korban kecelakaan lalu lintas paling banyak di Indonesia. Jenis kendaraan yang sering terlibat kecelakaan lalu lintas selama tahun 2016-2020 adalah sepeda motor (74,54 persen). Sebanyak 14 persen kepemilikan sepeda motor berada di Jakarta. Kepemilikan 3 dari 10 mobil juga berada di Jakarta. Indonesia menempati urutan ketiga kepemilikan sepeda motor di dunia, setelah di urutan pertama Amerika Serikat dan urutan kedua Turki.
Korban kecelakaan lalu lintas tahun 2020 (Korlantas Polri, 2021), menilik usianya korban tertinggi adalah kelompok pelajar, mahasiswa dan pekerja muda, yakni sebesar 56.187 jiwa (43,06 persen). Mereka memiliki rentang usia 10-19 tahun sebesar 26.906 jiwa (20,62 persen) dan usia 20 -29 tahun sebesar 29.281 jiwa (22,44 persen).
Kemudian diikuti kelompok usia 50 tahun ke atas 31.740 kejadian (24,32 persen), kelompok usia 10-19 tahun ada 26.906 korban jiwa (20,62 persen), kelompok usia 40-49 tahun ada 17.980 korban jiwa (13,78 persen), dan terendah di usia 0-9 tahun ada 6.027 korban jiwa (94,62 persen). Melihat prosentase kecelakaan lalu lintas pada kaum muda, Pemerintah harus fokus memperhatikan cara-cara menguranginya di kalangan kelompok usia produktif ini.
Pemda Harus Peduli
Program keselamatan tidak hanya dilakukan pemerintah pusat, namun pemda juga wajib menganggarkan. Sekarang ini, Dinas Perhubungan di kabupaten/kota konsentrasi membantu menaikkan PAD melalui aktivitas, parkir, kir dan terminal. Sesungguhnya, Dinas Perhubungan itu fokus pada program keselamatan dan pelayanan. Keselamatan transportasi untuk semua usia di semua sektor. Kemudian memberikan pelayanan penyediaan transportasi umum, jalur sepeda dan pejalan kaki yang humanis.
Tidak banyak Pemda yang memprogramkan keselamatan berlalu lintas. Program keselamatan tidak hanya kampanye keselamatan. Memberikan subsidi angkutan umum, sehingga tarifnya murah dan akan banyak pelajar menggunakan angkutan umum adalah bagian program keselamatan. Artinya, pelajar didorong menggunakan angkutan umum dan meninggalkan sepeda motor ke sekolah.
Banyaknya angkutan pedesaan yang punah dan jika masih beroperasi tidak lebih dari 10 persen. Hal ini menandakan kurang pedulinya kepala daerah pada layanan angkutan umum di daerahnya. Dampaknya, sekarang ini kebanyakan pelajar menggunakan sepeda motor atau angkutan barang bak terbuka berangkat dan pulang sekolah.
Kepala daerah harus fokus membenahi angkutan perkotaan dan angkutan pedesaan jika menginginkan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan milenial menurun. Juga membangun dan membenahi fasilitas pesepeda dan pejalan kaki yang berkeselamatan.***
Penulis: Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.