Dewan Pers

Dark/Light Mode

Catatan Joko Santoso, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas

Membaca Membentuk Bangsa

Selasa, 17 Agustus 2021 16:58 WIB
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas Joko Santoso (Foto: Istimewa)
Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas Joko Santoso (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap orang dari bangsa tertentu sebenarnya hanya sebagian anggota bangsanya. Karena itu, masyarakat bangsa ini hanya ada dalam konsep. Namun, melalui bacaan, orang membayangkan adanya masyarakat itu. Setiap membuka koran, secara otomatis, kita membagi berita situasi dalam negeri dan situasi luar negeri, sebagai cara saling mewartakan fenomena dan dinamika yang terjadi pada sebuah bangsa. Menurut Benedict Anderson dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, tidak ada pengaruh lebih besar yang membentuk bangsa daripada yang diberikan oleh buku-buku, koran, majalah, dan terbitan lainnya dalam bahasa setempat.

Ong Hok Ham mengatakan, melalui sebuah berkala atau buku, kita dapat membayangkan masyarakat secara lebih luas--ada toko-toko, pasar, para pejabat, para pedagang, lembaga-lembaga masyarakat, anggota sebuah bangsa. Orang dapat menjadi prihatin atas panen kedelai yang gagal, masalah petani atau pedagang yang menjadi korban lintah darat, dan lain sebagainya. Sikap demikian itu hanya terjadi akibat adanya bacaan. Konsep kebangsaan terkait dengan narasi bersama melalui bacaan ini menyebabkan orang merasa senasib-sepenanggungan, sebangsa dan se-tanah air.  

Bacaan dalam dimensi lain, sangat menentukan dalam peletakan dasar bahasa nasional, dan tentu juga membentuk orientasi intelektual sebuah bangsa. Pun terkadang dapat menyatukan pengalaman sejarah yang sama. Karena membaca dapat membuat Diponegoro bukan hanya milik Jawa, Pattimura bukan hanya milik Maluku, Iskandar Muda bukan hanya milik Aceh, tetapi milik bersama bangsa yang membenci kolonialisme yang menghisap dan ingin merdeka. Membaca telah menyatukan Soekarno yang Jawa, Hatta yang Melayu menjadi kesatuan “dwi tunggal” yang memproklamasikan bangsa. 

Berita Terkait : Menhub Ingatkan Kepala Daerah Jangan Sungkan Minta Bantuan

Bahkan, dengan membaca empati manusia itu bersifat universal, seolah-olah tidak mengenal batas bangsa. John D. Legge, dalam Sukarno Biografi Politik (1972) mengisahkan saat Soekarno ngenger di Ndalem H.O.S. Tjokroaminoto. Kesenangan Soekarno membaca mengantarkan pada ungkapan pemikir India, Swami Vivekananda yang berbunyi, “Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untuk diamalkan.” Ketika kesadaran itu mulai muncul, Soekarno mulai menerapkan apa-apa yang telah dibaca. 

Soekarno mulai memperbincangkan antara peradaban yang megah dari pikirannya dengan tanah airnya sendiri. Pemikirannya ini akhirnya menyadarkan Soekarno menjadi seorang nasionalis yang menyala-nyala dan menyadari bahwa tidak ada alasan bagi anak muda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri dalam dunia khayal. Kenyataan yang dihadapi oleh Soekarno, negerinya miskin, malang dan dihinakan. Kesadaran itu pula menyebabkan Soekarno mendirikan Tri Koro Dharmo dan menulis di Oetoesan Hindia, milik Sarekat Islam. Kemudian Partai Nasional Indonesia dan seolah tak terbendung lagi untuk mewujudkan Indonesia merdeka, meskipun harus menderita di penjara dan tanah buangan. 

Demikian kuat pengaruh bahan bacaan dalam membentuk sikap dan empati seseorang. Mario Vargas Llosa, lahir di Arequipa, Peru, 28 Maret 1936, seorang novelis, penulis dan politikus, contohnya. Ia mendapat hadiah Nobel bidang sastra tahun 2010, untuk karyanya mengenai kartografi dari struktur kekuasaan dalam melawan tekanan, perlawanan, pemberontakan, serta kekalahan individu. 

Berita Terkait : Perempuan Dan Hari Merdeka

Dalam Kuliah Nobel Bidang Sastra, 7 Desember 2010, bertema: "Dalam Pujian Membaca dan Fiksi" ia mengisahkan "...Saya belajar membaca pada usia lima tahun, di kelas Bruder Justiniano di Akademi De la Salle di Cochabamba, Bolivia. Itu adalah hal terpenting yang pernah terjadi pada saya. Hampir tujuh puluh tahun kemudian saya ingat dengan jelas bagaimana keajaiban menerjemahkan kata-kata dalam buku ke dalam gambar memperkaya hidup saya, memecahkan batasan waktu dan ruang dan memungkinkan saya untuk bepergian dengan Kapten Nemo dua puluh ribu liga di bawah laut, bertarung dengan d'Artagnan, Athos, Porthos, dan Aramis melawan intrik yang mengancam Ratu pada masa Richelieu yang sembunyi-sembunyi, atau tersandung melalui selokan Paris, berubah menjadi Jean Valjean membawa tubuh lembam Marius di punggung saya."  

Pengaruh bacaan cetak, termasuk bacaan dalam salinan berbagai format, rekaman kaset, film dan digital berkat teknologi informasi dan komunikasi yang modern, akan mewujudkan masyarakat yang senasib atau masyarakat yang ingin memutuskan nasibnya sendiri seperti apa ke depannya. Dampak membaca bagi sebuah bangsa dengan demikian bukanlah perkara sepele.  

Erving Goffman mengatakan proses framing secara sosiologis itu bersifat resiprokal. Frame yang kita gunakan untuk menafsirkan peristiwa yang kita alami sehari-hari, kadang kita pakai juga untuk menafsirkan peristiwa yang diberitakan oleh media. Atau sebaliknya, frame yang kita pakai untuk menafsirkan berita media kita pakai untuk menafsirkan peristiwa sehari-hari. Frame yang kita pakai sehari-hari bisa menjadi sumber frame dalam melihat isi media, dan sebaliknya juga frame untuk melihat isi media kita gunakan untuk melihat peristiwa sehari-hari. Kedua frame bisa saling membentuk dan mempengaruhi satu sama lain.  

Berita Terkait : Antisipasi Bencana Di Tengah Pandemi

Sebagai misal, barangkali kita mempunyai frame bahwa pengemis terjadi akibat kemalasan individu, bukan karena sulitnya lapangan pekerjaan. Bingkai ini bisa bersumber dari media, bisa juga dari kehidupan sehari-hari. Bingkai itu bisa kita gunakan untuk menilai tayangan berita mengenai pengemis di surat kabar dan kita gunakan juga untuk menilai pengemis yang ada di lingkungan kita. Sehingga dapat dikatakan tidak ada pangkal mula apakah bingkai berasal dari media atau kehidupan sehari-hari. Media massa dan realitas sosial itu saling berkaca. 
 Selanjutnya