RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto menaruh bangga produk kakao atau cokelat milik petani Bali tembus ekspor ke pasar global.
Dia pun memberikan apresiasi atas kinerja Barantin dalam memberikan kemudahan ekspor cokelat dan terus melakukan pendampingan dan dan edukasi untuk pemenuhan persyaratan ekspor baik di tingkat petani maupun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
"Produksi coklat di sini luar biasa. Kita ini penghasil coklat terbesar dunia dan saya kira ini masih bisa ditingkatkan lagi," kata Titiek dalam kunjungan kerja ke Tabanan, Bali, Jumat (18/7/2025).
Titiek pun menyampaikan kegembiraannya karena dari komoditi coklat ini, tidak hanya meningkatkan nilai devisa negara. Namun juga menyerap tenaga kerja lebih banyak dan juga meningkatkan pendapatan petani.
Baca juga : Soal Transfer Data Ke AS, Sidik Cyber Harap Indonesia Perkuat Payung Hukum
Di tempat yang sama, Kepala Badan Karantina Indonesi (Barantin) Saht M. Panggabean menuturkan bahwa biji kakao Bali banyak diminati pasar luar negeri karena memiliki aroma dan cita rasa yang khas serta teksturnya tidak mudah meleleh.
Adapun berdasarkan catatan sertifikasi karantina, ekspor cokelat dari Bali pada tahun 2024 mencapai 372,3 ton dengan perkiraan nilai Rp1,6 miliar. Komoditas tersebut diekspor dalam bentuk kakao blok, biji dan bubuk.
Sedangkan negara tujuan ekspor kakao Bali di antaranya adalah Irlandia, Jepang, Lithuania, Australia, UEA, Jerman, Saudi Arabia, Belanda, China dan Prancis.
Sahat menjelaskan ekspor cokelat ini diakukan oleh perusahaan lokal Bali, PT Cau Coklat Internasional. Adapun ekspor coklat kali ini dilakukan untuk negara tujuan Australia.
Baca juga : Menko Airlangga: Dampak Perubahan Iklim Bisa Tembus 6 Persen Dari PDB 2060
Selain Australia, PT Cau Coklat Internasional juga memasarkan produk ke sejumlah negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Qatar, dan Selandia Baru.
Sementara Chief Executive Officer (CEO) PT Cau Coklat Internasional Kadek Surya Prasetya Wiguna menyampaikan bahwa perusahaannya juga mendapat pembiayaan dari BNI Awalnya, PT Cau Coklat Internasional hanya memproduksi cokelat dan bisnis agrowisata setelah berdiri pada 2014.
Namun, sejak 2018, bisnis Kadek Surya juga meluas menjadi distributor produk selain cokelat.Usaha yang dikelola Kadek Surya ini berhasil memproduksi cokelat dengan kapasitas hingga dua ton per hari.
"Karena produksi terus meningkat, kami bekerja sama dengan partner di Surabaya untuk memproduksi cokelat dan membangun gudang penyimpanan yang memadai di daerah Seminyak dan Tabanan, Bali," ujar dia.
Baca juga : Takad Maung Bandung Muda Tampil Apik Di Piala Asia U-17 Dan Piala Dunia
Dengan jumlah produksi yang tinggi, dia pun mencoba memasarkan produknya melalui berbagai sistem pemasaran mulai dari toko oleh-oleh seperti Krisna Oleh-oleh, Keranjang Bali, Transmart, Coco Mart, hingga Duty Free di bandara.
Sementara untuk bisnis agrowisata, penjualan dilakukan melalui agen wisata dengan target wisatawan domestik dan mancanegara.
"Saat ini, Cau Coklat Internasional telah memiliki tenaga kerja lebih dari 150 orang, baik di produksi maupun di pemasaran dan kantor. Ke depan, kita berharap bisnisnya terus meningkat dengan jangkauan pasar yang lebih luas," tambahnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.