RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR sekaligus Ketua MPR periode 2019–2024, Bambang Soesatyo, yakin Presiden Prabowo Subianto tidak ragu menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto. Sebab, dasar hukum, dukungan, dan proses politiknya di Sidang Paripurna Akhir Masa Jabatan MPR 2019-2024 yang melibatkan seluruh fraksi dari unsur DPR dan unsur DPD telah memulihkan nama baik dan martabat Soeharto.
Sidang Sidang Paripurna itu disepakati, mencabut nama Soeharto dalam Pasal 4 TAP MPR Nomor XI/MPR/1998. Dengan pencabutan ini, kata Bamsoet--sapaan akrab Bambang--tidak ada lagi hambatan hukum, politik, maupun administratif bagi negara untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada sosok yang telah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade dan meletakkan fondasi kokoh bagi pembangunan nasional.
“Kini saatnya bangsa ini memberikan penghormatan yang pantas kepada almarhum Presiden Soeharto atas jasa dan pengabdian luar biasanya terhadap bangsa dan negara Indonesia,” ujar Bamsoet, di Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, dengan berakhirnya polemik hukum, Pemerintah memiliki dasar moral dan historis yang kuat untuk memberikan penghargaan negara kepada Soeharto. Seluruh kriteria dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan juga telah dipenuhi oleh Soeharto.
Baca juga : Jasanya Besar, Soeharto Dinilai Pantas Diberi Gelar Pahlawan Nasional
Bamsoet menyatakan, pemberian gelar pahlawan nasional bukan semata penghormatan simbolis. Tetapi juga bentuk pengakuan negara atas pengabdian dan jasa besar seorang pemimpin yang membangun bangsa dengan visi jauh ke depan.
“Presiden Prabowo memiliki kesempatan bersejarah untuk meneguhkan rekonsiliasi nasional. Pemberian gelar ini bukan semata penghormatan kepada individu, tetapi juga penegasan bahwa bangsa Indonesia mampu berdamai dengan masa lalunya dan menatap masa depan dengan kebanggaan,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini lalu memaparkan, berbagai capaian monumental di masa kepemimpinan Soeharto. Data Bank Dunia menunjukkan, sepanjang tahun 1967 hingga 1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata mencapai 6–7 persen per tahun. Angka kemiskinan turun signifikan dari sekitar 60 persen pada 1970-an menjadi sekitar 11 persen pada 1996.
Pemerataan pembangunan juga mulai terasa di berbagai wilayah melalui proyek transmigrasi, industrialisasi, serta penguatan sektor pertanian. “Program pembangunan nasional yang digagas Pak Harto telah membawa jutaan rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan. Itu fakta sejarah yang tidak bisa dihapus. Dengan kepemimpinan beliau, Indonesia tumbuh menjadi negara yang diperhitungkan di kawasan regional,” urai Bamsoet.
Baca juga : Tokoh NU dan Pengurus Muhammadiyah Ini Tolak Gelar Pahlawan Soeharto
Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, keberhasilan sektor pertanian menjadi tonggak penting dalam sejarah pemerintahan Soeharto. Melalui program Bimas, Inmas, dan Revolusi Hijau, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Soeharto bahkan menerima penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan Dunia) atas capaian tersebut. Pencapaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan membangun ketahanan pangan nasional.
Di bidang infrastruktur, Soeharto menjadi pelopor pembangunan besar-besaran yang menopang ekonomi hingga saat ini. Jalan Tol Jagorawi yang diresmikan pada 1978 menjadi proyek tol pertama di Indonesia dan menjadi inspirasi jaringan tol nasional yang kini mencapai ribuan kilometer. Selain itu, pembangunan waduk, jembatan, pelabuhan, bandara, hingga pabrik pupuk dan semen menjadi tonggak industrialisasi nasional.
“Warisan infrastruktur Pak Harto adalah fondasi yang masih digunakan hingga sekarang. Beliau membangun dengan visi jangka panjang. Kita hari ini masih terus menikmati hasil kerja kerasnya,” jelas Bamsoet.
Dosen tetap Pascasarjana Universitas Pertahanan (Unhan), Universitas Jayabaya, dan Universitas Borobudur ini menambahkan, di bidang sosial dan politik, Soeharto berhasil menjaga stabilitas nasional dalam jangka panjang, yang memungkinkan Indonesia fokus membangun ekonomi dan pendidikan. Pemerintahannya berhasil menekan inflasi yang sempat mencapai ratusan persen di awal 1966 menjadi satu digit dalam beberapa tahun, serta mendorong tumbuhnya kelas menengah baru di berbagai daerah.
Baca juga : PP PERSIS Dukung Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto
“Soeharto bukan hanya pemimpin pembangunan, tetapi juga pemersatu bangsa. Beliau telah membuktikan kepemimpinan yang membawa perubahan besar. Sudah sepantasnya negara memberi penghormatan tertinggi dengan gelar pahlawan nasional,” pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.