Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Pahlawan adalah orang yang berkorban tanpa pamrih demi bangsa dan negara. Pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto menuai pro dan kontra. Soeharto dianggap telah berjasa kepada bangsa dan negara. Di sisi lain, pemberian gelar pahlawan kepada Presiden kedua tersebut mengingkari fakta sejarah. Kegaduhan pemberian gelar pahlawan harus segera dihentikan sebelum peringatan Hari Pahlawan pada 10 November mendatang. Presiden Prabowo memiliki kewenangan penuh dalam memutuskan gelar pahlawan kepada seseorang.
“Belajarlah dari falsafah Mikul Duwur Mendem Jero," celetuk Petruk serius. Romo Semar mesem dan mengangguk setuju dengan pernyataan Petruk. Kita bangsa besar dapat membeda kan mana pejuang sejati tanpa pamrih dan pejuang abal-abal. Romo Semar sebetulnya kurang semangat nimbrung urusan gelar pahlawan. Romo Semar sedang galau dengan cuaca ekstrem belakangan ini. Dampak bencana tahunan sudah mulai menelan banyak korban. Seperti banjir bandang dan tanah longsor terjadi di berbagai wilayah beberapa pekan terakhir ini. Mitigasi bencana harus segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Baca juga : Setahun Pemerintahan Puntadewa
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi tubruk. Pagi yang dingin serasa nikmat dengan merahapi pisang dan ubi rebus. Panganan rebusan merupakan menu kelangenan padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Dimana, Kumbakarna terhambat masuk surga, karena gelar pahlawannya masih menggantung.
Kocap Kacarito, Kumbakarna merupakan adik Rahwana raja dari kerajaan Alengka. Sejak awal, Kumbakarna berseberangan secara politik dengan Rahwana. Khususnya dalam peristiwa penculikan Dewi Sinta di hutan Dandaka. Perilaku Rahwana jelas menerjang aturan. Rahwana berani menculik istri sah Prabu Rama Wijaya.
Baca juga : Drupada Juru Damai Trah Barata
Peristiwa penculikan Dewi Sinta memicu terjadinya perang besar antara Kerajaan Alengka dengan Pancawati. Perang yang dikenal dengan Brubuh Alengka menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Kumbakarna sebagai senopati Alengka maju ke medan perang demi membela tanah air. Majunya Kumbakarna bukan membela kejahatan Rahwana. Akan tetapi membela rakyat dan bumi kelahiran. Maka ketika gugur di medan perang, Kumbakarna diberi gelar sebagai pahlawan.
Namun penyematan gelar pahlawan kepada Kumbakarna tidak mulus. Sebagian rakyat Alengka ada yang tidak setuju dengan pemberian gelar pahlawan tersebut. Kumbakarna dan Gunawan Wibisana justru dianggap sebagai pengkhianat dan cenderung berpihak kepada Prabu Rama. Begitu pula dengan Gunawan Wibisana yang lebih dulu membelot ke Pancawati.
Baca juga : Gugatan Bima Pada Sidang Umum Dewata
Arwah Kumbakarna tidak bisa masuk surga. Para dewa menolak Kumbakarna karena status kepahlawanannya belum jelas. Kumbakarna dapat mencapai kehidupan abadi kalau sudah berjumpa dengan satria Pandawa. Satria Pandawa khususnya Bima yang dapat mengantarkan Kumbakarna masuk surga. Karena antara Bima dan Kumbakarna memiliki kesamaan sebagai senopati pembela tanah air.
“Kumbakarna akhirnya bisa masuk surga, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Kumbakarna masuk kasuargan jati diantar Bima,” jawab Romo Semar pendek. “Yang namanya berjuang tidak harus diberitakan kepada orang lain. Pejuang sejati berjuang tanpa pamrih dan tidak mengharapkan penghargaan. Biarkan masyarakat luas yang menilai. Apakah seseorang layak menerima gelar sebagai pahlawan atau tidak,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.