RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi II DPR Azis Subekti mengingatkan pentingnya peran negara untuk tetap melindungi rakyat di tengah ketidakpastian global yang semakin kuat. Hal itu ia sampaikan dalam tulisannya berjudul “Agar Negara Tidak Abai: Menjaga Rakyat di Tengah Guncangan”.
Menurut Azis, dinamika global saat ini ditandai oleh konflik berkepanjangan. Ditambah lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok yang berdampak langsung terhadap perekonomian banyak negara.
“Dunia hari ini bergerak tanpa belas kasih. Perang memanjang, energi melambung, rantai pasok tersendat, dan di sela semua itu, pertanyaan paling tua kembali mengetuk: kekuasaan ini bekerja untuk siapa?” tulis Azis, dalam keterangannya yang diterima wartawan, Selasa (7/4/2026).
Dia menilai, Indonesia tidak berada di luar pusaran krisis global tersebut. Namun, Indonesia memilih tetap berdiri dengan berpegang pada amanat konstitusi untuk menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.
Azis menegaskan, prinsip tersebut telah ditegaskan sejak awal dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Isinya memuat mandat untuk memajukan kesejahteraan umum dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Baca juga : OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga Di Tengah Gejolak Global
“Kalimat itu menolak netralitas. Ia menolak sikap acuh. Ia menegaskan bahwa negara harus berpihak ketika hidup menjadi berat,” ujarnya.
Dalam situasi ekonomi global yang menekan, menurut Wakil Sekretariat Jenderal Partai Gerindra itu, negara kerap dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga stabilitas ekonomi atau melindungi daya beli masyarakat. Azis menilai kepemimpinan diuji ketika harus menentukan prioritas kebijakan di tengah kondisi tersebut.
Ia menilai dalam satu tahun terakhir pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berupaya memastikan masyarakat kecil tidak menjadi pihak pertama yang menanggung dampak tekanan ekonomi.
“Dalam satu tahun terakhir, pemerintahan Prabowo Subianto mengirim pesan yang terang: rakyat tidak boleh menanggung beban paling awal. Wong cilik harus tetap bisa tersenyum,” cetusnya.
Salah satu kebijakan yang ia soroti adalah upaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) agar tidak langsung terdampak gejolak harga energi global. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta keberlangsungan usaha kecil.
Baca juga : APKI Ajak Industri Pulp Dan Kertas Bersatu Hadapi Tekanan Global
“Di tengah tekanan global, harga ditahan agar kehidupan sehari-hari tidak runtuh sekaligus. Ongkos perjalanan tetap terjangkau, harga pangan tidak melonjak liar, usaha kecil tidak langsung tumbang,” jelasnya.
Namun, Azis juga mengingatkan bahwa kebijakan perlindungan seperti subsidi energi memiliki tantangan tersendiri. Termasuk potensi penyimpangan seperti penyelundupan akibat perbedaan harga dengan negara lain.
“Ketika harga dalam negeri lebih rendah dari negara tetangga, muncul godaan untuk menyimpang. Penyelundupan menjadi bayangan yang tak bisa diabaikan,” imbuhnya.
Karena itu, ia menilai pengawasan distribusi energi harus diperkuat melalui pemanfaatan data yang lebih akurat, pengawasan wilayah perbatasan, hingga penegakan hukum yang tegas.
"Karena setiap liter yang bocor bukan sekadar kerugian ia adalah keadilan yang gagal hadir," nilai Azis.
Baca juga : Teheran Dan Pilihan Dialog Di Tengah Krisis Global
Selain sektor energi, Azis juga menyoroti dampak kenaikan harga avtur terhadap biaya penerbangan, termasuk biaya perjalanan ibadah haji. Menurutnya, bagi sebagian masyarakat Indonesia, ibadah haji merupakan harapan yang dipersiapkan bertahun-tahun. Sehingga kenaikan biaya perjalanan berpotensi menjadi beban berat.
“Bagi sebagian orang, haji adalah satu kesempatan dalam hidup. Ketika biaya melambung, yang tertunda bukan sekadar perjalanan, tetapi doa yang lama dirawat,” ujarnya.
Dia menilai negara perlu mengambil langkah terukur untuk menekan beban biaya tersebut. Dari efisiensi layanan, negosiasi biaya dengan berbagai pihak terkait, hingga membuka ruang subsidi agar beban tidak sepenuhnya ditanggung jamaah. “Ibadah tidak boleh berubah menjadi jarak yang tak terjangkau,” pungkas Azis.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.