RM.id Rakyat Merdeka - Ada cara yang berbeda untuk membaca Indonesia ketika kita berada di Natuna. Dari Jakarta, Natuna mudah dibayangkan sebagai titik yang jauh di sebelah utara peta.
Tetapi ketika kita tiba di sana, berbicara dengan pemerintah daerah, mendengar masyarakat, dan melihat kehidupan yang dipisahkan laut dari satu pulau ke pulau lainnya, perspektif itu berubah.
Natuna bukan pinggiran. Ia adalah salah satu beranda tempat Republik Indonesia berhadapan langsung dengan dunia. Saya merasakan itu dalam kunjungan Delegasi MPR RI ke Kabupaten Natuna, Rabu, 30 September 2026.
Agenda kami mempertemukan MPR dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Kabupaten Natuna dan tokoh masyarakat perbatasan, dilanjutkan dengan perjumpaan bersama masyarakat Kampung Nelayan Merah Putih Cemaga Utara serta peninjauan fasilitas publik.
Kunjungan seperti ini penting bukan semata untuk melihat apa yang sudah dibangun dan apa yang masih kurang. Bagi MPR, datang ke daerah perbatasan semestinya juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali hubungan antara negara, wilayah, dan warga negaranya.
Baca juga : Muzani Tinjau Kampung Nelayan Dan Sekolah Rakyat Di Kabupaten Natuna
Sebab di tempat seperti Natuna, kata-kata besar seperti kedaulatan, persatuan, keadilan sosial, dan kehadiran negara mendapatkan ukuran yang sangat sehari-hari.
Laut yang Mengubah Cara Kita Menghitung
Paparan Bupati Natuna, Cen Sui Lan, memberi gambaran yang menarik. Luas wilayah Natuna mencapai sekitar 218 ribu kilometer persegi. Namun hanya 0,91 persen berupa daratan. Selebihnya, 99,09 persen, adalah laut.
Di wilayah itu tersebar 172 pulau, dan 27 di antaranya berpenghuni. Angka-angka itu sepintas hanya statistik geografis. Sesungguhnya, di baliknya terdapat persoalan besar mengenai bagaimana negara menyelenggarakan pelayanan publik.
Di kabupaten yang wilayahnya menyatu di daratan, jalan dapat menghubungkan kecamatan dengan kecamatan. Di Natuna, laut sering kali menjadi “jalan raya”.
Baca juga : Kunjungi Natuna, Ketua MPR Soroti Penguatan Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan
Untuk membawa bahan pangan, mengantar tenaga kesehatan, menghubungkan anak dengan sekolah, menggerakkan aparatur pemerintahan, atau sekadar membawa warga dari satu pulau ke pusat pelayanan, dibutuhkan kapal, pelabuhan, bahan bakar, jadwal pelayaran, dan cuaca yang bersahabat.
Karena itu, biaya menghadirkan pelayanan yang sama tentu berbeda. Di sinilah saya melihat satu persoalan yang lebih mendasar.
Selama ini kita sering berbicara tentang kesetaraan pembangunan dengan ukuran berapa banyak jalan dibangun, berapa sekolah tersedia, atau berapa besar anggaran dialokasikan.
Tetapi negara kepulauan seperti Indonesia membutuhkan ukuran tambahan: berapa biaya yang harus ditanggung seorang warga hanya karena ia tinggal di ruang geografis yang berbeda?
Pertanyaan itu terasa nyata di Natuna. Konektivitas udara masih menjadi persoalan. Dalam paparan pemerintah daerah, terbatasnya penerbangan dan tingginya harga tiket disebut berdampak hingga kepada pariwisata dan kegiatan ekonomi. Untuk jalur laut, tantangannya berbeda lagi: keterbatasan pelayaran, jadwal, dan kondisi cuaca.
Baca juga : Johan Rosihan Harap APBN 2027 Terasa Manfaatnya Ke Seluruh Rakyat
Pada urusan pangan, sebagian kebutuhan bahan pokok Natuna masih didatangkan dari luar daerah. Distribusinya harus melewati perjalanan laut dan berbagai mata rantai logistik.
Pemerintah daerah bahkan mengangkat persoalan pasokan bahan pokok dan perlunya kebijakan afirmatif bagi wilayah perbatasan, terutama ketika jalur distribusi menghadapi cuaca ekstrem dan keterbatasan sumber pasokan.
Maka mahalnya kehidupan di daerah kepulauan tidak seluruhnya dapat dibaca sebagai persoalan pasar. Ada ongkos geografis yang bekerja di dalamnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.