Sebelumnya
Lalu, apa yang akan didapat dari aksi unjuk rasa 'Jokowi End Game' untuk menolak PPKM? Alih-alih menyelesaikan masalah, unjuk rasa ‘Jokowi End Game’ justru akan mengeskalasi persoalan, bahkan berpotensi memicu krisis multidimensi. Seandainya unjuk rasa itu berhasil mendelegitimasi pemerintah saat ini, sama artinya menyulut krisis politik di tengah puncak krisis kesehatan. Akibatnya, adalah kerja penanganan pandemi akan berantakan karena ketidakpastian politik.
Ketidakpastian politik di dalam negeri akan mempersulit upaya untuk mendapatkan vaksin Corona, obat-obatan dan alat-alat kesehatan dari sejumlah produsen di beberapa negara. Karena kombinasi krisis kesehatan dan krisis politik selalu butuh biaya ekstra, tidak mudah bagi sebuah negara mendapatkan komitmen pembiayaan dari lembaga multilateral sekalipun, saat negara itu belum menyelesaikan ketidakpastian politik di dalam negeri.
Jadi, skenario ‘Jokowi End Game’ itu tidak hanya menimbulkan gaduh di ruang publik, tetapi ada nuansa eksperimen politik. Polisi sebaiknya tak hanya memburu pelaku penyebaran informasi ajakan unjuk rasa itu, melainkan lebih fokus pada petualang atau aktor intelektual di balik kegaduhan ini. Kerja penanganan pandemi Covid-19 dan bakti sosial masyarakat menolong mereka yang menderita hendaknya tidak diganggu oleh kegaduhan yang nyata-nyata tidak menyelesaikan masalah.
Masyarakat sudah dibuat kecewa oleh tindak pidana sejumlah orang yang memanfaatkan situasi pandemi sekarang ini untuk mencari keuntungan pribadi. Dari kasus korupsi bansos oleh pejabat negara, kasus pemalsuan surat hasil tes Covid-19, kasus penggunaan alat rapid test antigen bekas hasil daur ulang, dan kasus lolosnya WNI dari India sehingga tidak dikarantina, hingga praktik jual-beli surat keterangan hasil swab PCR palsu.
Semua gangguan itu sudah lebih dari cukup. Jangan lagi situasi puncak pandemi saat ini ditunggangi kepentingan politik dengan manuver-manuver yang tidak kontributif. Sebaliknya, semua sekat dalam masyarakat hendaknya disingkirkan dulu agar semua orang sehat bisa bahu membahu menolong mereka yang menderita.
Hingga pekan ini, kasus Covid-19 sudah terdeteksi di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi. Dua hari berturut pada Kamis (22/7) dan Jumat (23/7), terdeteksi kasus baru Covid-19 yang mendekati jumlah 50.000 kasus. Total kasus di dalam negeri pun sudah menembus jumlah 3 juta. Banyaknya pasien yang sembuh patut disyukuri, namun jumlah kematian yang tidak kecil hendaknya mendorong setiap orang tetap waspada. Pada Jumat (23/7), data resmi dari pemerintah menyebutkan ada 1.566 kematian akibat Covid-19.
Banyak kelompok masyarakat di berbagai daerah tengah giat menolong mereka yang berduka dan menderita. Tidak elok jika dalam situasi seperti sekarang ini ada yang bernafsu menyulut gaduh.***
Penulis: Ketua MPR/Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Hukum Unpad
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.