Setiap menjelang tahun-tahun pemilu, tentunya banyak anak muda yang menunjukkan antusiasnya. Pemilu menjadi momentum yang penting bagi generasi muda atau yang akrab disebut gen Z, untuk berpatisipasi dan berperan aktif didalam proses demokrasi di indonesia. Gen Z tentunya memiliki potensi besar dalam memberikan dampak yang signifikan didalam keberhasilan pemilu, baik sebagai pemilih, penggerak opini, maupun sebagai calon legislatif.
Namun, di balik keterlibatan generasi muda ini juga memunculkan pertanyaan penting. Seperti apakah keterlibatan mereka benar-benar lahir dari kesadaran politik? atau hanya sekedar hasil dari strategi rekrutmen partai yang hanya memanfaatkan popularitas kaum muda?
Rekrutmen politik merupakan proses pencarian dan pembinaan calon pemimpin yang memiliki kapasitas, integritas, dan pemahaman terhadap politik. Namun, dalam praktiknya proses tersebut sering tidak berjalan dengan seharusnya, banyak partai yang mengutamakan kepentingan pragmatis, popularitas, dan hanya mencari figur populer dibandingkan mencari kader yang berkualitas. Mereka mengutamakan figur yang terkenal dan memiliki pengaruh, ketimbang yang memiliki potensi yang mengakibatkan kaum muda yang seharusnya menjadi simbol perubahan sering kali hanya menjadi pajangan demokrasi, bukan sebagai aktor yang berperan dalam mengambil keputusan.
Baca juga : Kemendiktisaintek Dorong Fisika Kuantum Masuk Kurikulum Nasional
Dalam Pemilu 2024, selain generasi milenial, Gen Z juga termasuk kelompok yang mendominasi jumlah pemilih. Partai politik pun berlomba-lomba menarik perhatian pemilih muda dengan menampilkan wajah-wajah baru di daftar calon legislatif yang menunjukkan seolah regenerasi tengah terjadi. Padahal, kenyataannya sebagian besar strategi pencitraan tersebut demi merebut simpati pemilih muda. Banyak partai menjadikan kehadiran anak muda sebagai simbol pembaruan, padahal dalam kenyataannya mereka sering tidak benar-benar dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Kondisi tersebut menimbulkan tantangan yang serius bagi kualitas demokrasi di Indonesia. Ketika proses rekrutmen politik hanya menonjolkan popularitas, maka ruang bagi kaderisasi yang berbasis kemampuan dan ide menjadi semakin sempit.
Kaum muda yang memiliki idealisme dan kapasitas sering kali tersingkir karena tidak memiliki modal sosial maupun ekonomi yang besar. Akibatnya, politik kehilangan semangat pembaruan yang seharusnya lahir dari generasi muda. Regenerasi yang diharapkan membawa perubahan justru berjalan di tempat, terjebak dalam pola lama yang mengutamakan citra dan kepentingan pragmatis.
Baca juga : Meritokrasi Dan Politik Dalam Pemerintahan Menuju Indonesia Raya
Padahal, di tengah berbagai tantangan sosial dan politik saat ini, kehadiran pemimpin muda yang visioner dan berintegritas sangat dibutuhkan. Jika partai politik benar-benar ingin menjaga keberlanjutan demokrasi, mereka harus mulai memandang rekrutmen bukan sekadar strategi elektoral, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Regenerasi politik yang sehat seharusnya membuka kesempatan bagi munculnya pemimpin muda yang berintegritas dan memahami realitas masyarakat. Karena hal tersebut, perlu adanya reformasi dalam mekanisme rekrutmen politik agar tidak sekadar mencari figur yang terkenal, melainkan menumbuhkan calon pemimpin yang berkomitmen terhadap nilai-nilai demokrasi dan kepentingan publik. Anak muda seharusnya diberi ruang untuk belajar, berproses, dan berkontribusi secara nyata, bukan hanya dijadikan simbol perubahan di permukaan. Dengan membuka pintu bagi generasi muda untuk ikut terlibat, politik Indonesia bisa tumbuh lebih inklusif dan berorientasi pada masa depan.
Dikarenakan pada akhirnya, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi oleh seberapa besar kesempatan yang kita berikan bagi mereka yang akan memimpin esok.
Baca juga : Bali United Bidik Tiga Poin Di Kandang Persijap
Partai politik perlu kembali pada fungsi idealnya sebagai wadah pendidikan politik dan pembibitan kader yang berkualitas. Kaum muda harus dilibatkan secara aktif dalam proses perumusan kebijakan, bukan hanya dijadikan simbol keterwakilan generasi. Selain itu, masyarakat juga perlu lebih kritis dalam menilai figur politik, dengan menekankan pada rekam jejak, integritas, serta visi kebangsaan. Dengan adanya kesadaran dari partai, masyarakat dan generasi muda, diharapkan rekrutmen politik di Indonesia dapat berjalan lebih transparan, inklusif, dan berorientasi pada kualitas, bukan sekadar popularitas.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.