RM.id Rakyat Merdeka - idak ada urgensi bagi partai-partai besar seperti Partai NasDem dan Gerindra untuk melakukan merger. Pada Pilpres 2029, posisi dua partai politik (parpol) tersebut masih di atas angin alias kuat.
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, Gerindra maupun NasDem tidak memerlukan merger. Selain tidak memberikan dampak signifikan, merger juga berpotensi menimbulkan kerumitan dalam tata kelola internal partai.
"Penggabungan dua kekuatan politik rumit karena akan menyatukan kepentingan dan struktur kekuasaan yang berbeda,” ujar Dedi, kepada Rakyat Merdeka, Selasa (21/4/2026).
Ia mengatakan, opsi yang lebih realistis antara NasDem dan Gerindra adalah membangun koalisi antarpartai. Skema koalisi lebih fleksibel, tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing partai politik.
Baca juga : Hanya Komunikasi Politik, Paloh Bantah NasDem & Gerindra Akan Merger
“Parpol tetap independen dan banyak, tetapi dirampingkan dalam koalisi. Ini justru mendukung sistem presidensial yang saat ini dijalankan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dedi mengatakan, dinamika menuju Pilpres 2029 belum menunjukkan persaingan yang berat. Kekuatan Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra masih dominan. Sementara itu, partai yang berada di luar pemerintahan dinilai belum cukup kuat untuk menjadi penyeimbang.
"Bahkan, parpol kontra Pemerintah hanya PDIP dan itu pun tidak lagi dominan,” ungkapnya.
Sebelumnya, beredar isu jika Partai NasDem akan merger dengan Partai Gerindra. Rumor berkembang setelah ada pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Februari 2026.
Baca juga : AS-Iran Gagal Damai: Minyak Meroket, Rupiah Melorot
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh membantah kabar pertemuan tersebut berujung merger dengan Partai Gerindra. Dia menilai, kabar tersebut merupakan kesimpulan yang terlalu dini.
“Sudah pasti tidak ada. Itu barangkali terlalu cepat menyimpulkan, tapi saya pikir wajar,” kata Paloh dalam acara halalbihalal Forum Pemimpin Redaksi di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026) malam.
Paloh memastikan, pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, tidak membahas soal merger. Pertemuan tersebut lebih fokus pada kondisi bangsa dan tantangan ke depan.
“Termasuk bagaimana menghadapi tantangan ke depan bagi seluruh partai koalisi. NasDem berada dalam posisi itu,” jelasnya.
Baca juga : Pakar Dorong Penegakan Hukum Tegas Berantas Tambang Ilegal di Bolmong
Dia juga menekankan pentingnya kritik dalam kehidupan demokrasi. Menurut dia, kritik harus disikapi secara bijak dan proporsional, serta tidak keluar dari koridor yang semestinya. Kritik, kata dia, harus dilihat sebagai bagian dari upaya membangun, bukan justru melemahkan.
"Kritik itu penting untuk membangun semangat dan autokritik dalam kehidupan berbangsa,” tegasnya.
Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa menambahkan, wacana merger hanya sebatas ide yang belum pernah dibahas secara internal partai. Dia mengatakan, wacana tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika politik.
“Sebagai ide atau wacana, itu hal yang biasa. Tapi untuk mewujudkannya, banyak hal yang harus dipikirkan, didiskusikan, dan direncanakan,” kata Saan di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (13/4/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.