Dark/Light Mode

AS-Iran Gagal Damai: Minyak Meroket, Rupiah Melorot

Selasa, 14 April 2026 08:26 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berimbas pada ekonomi. Harga minyak dunia kembali meroket. Di dalam negeri, nilai tukar rupiah melorot.

Pada perdagangan Senin (13/4/2026), harga minyak dunia kembali naik menembus 100 dolar AS per barel. Kontrak minyak mentah Brent naik 6,67 dolar AS atau sekitar 7,0 persen menjadi 101,87 dolar AS per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 7,26 dolar AS atau 7,5 persen ke level 103,83 dolar AS per barel.

Di pasar spot, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.122 per dolar AS. Kemudian ditutup melemah di level 17.105 per dolar AS. Angka ini turun 0,06 dibanding pada perdagangan Jumat (10/4/2026), yang berada di level 17.104 per dolar AS.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyebut, gagalnya perdamaian antara AS dan Iran memang memberi tekanan ke ekonomi. "Faktor sentimen itu bisa mengubah kondisi 180 derajat dalam waktu singkat," ulasnya, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).

Baca juga : Temui Putin, Prabowo Amankan Stok BBM

Kabar baiknya, kata Faisal, pelemahan nilai tukar biasa terjadi pada pekan awal, kemudian akan berangsur turun seiring intervensi dari Bank Indonesia (BI). Ia memprediksi, rupiah masih bisa menguat di kisaran 16.900 per dolar AS.

Kepala Ekonom BCA David E Sumual mengatakan, meski melemah, sejatinya fundamental rupiah sangat baik. Bahkan jika dibandingkan dengan mata uang lain.

David menerangkan, Indonesia melakukan impor yang cukup besar, sehingga butuh dolar AS dalam jumlah banyak. Kondisi ini membuat rupiah tertekan. Namun, impor yang dilakukan mendorong kinerja ekspor. Inflasi Indonesia juga masih terkendali.

Karena itu, David optimis rupiah akan kembali menguat. "Pergerakan rupiah dominan memang relatif lebih digerakkan oleh investor portofolio," urainya.

Baca juga : Berunding 21 Jam, AS-Iran Gagal Islah

Pihak BI juga tidak waswas dengan kondisi ini. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut, kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah memberikan dua dampak bagi ekonomi nasional. Satu sisi, kenaikan harga minyak dan melemahnya rupiah menambah tekanan inflasi. 

"Akibatnya, naik semua. DYX naik di atas 100, mata uang regional advanced economies mengalami pelemahan," ungkap Destry, dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).

Di sisi lain, Indonesia mendapat untung dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor. Sejumlah komoditas unggulan seperti batu bara dan Crude Palm Oil (CPO) mengalami kenaikan harga seiring lonjakan harga energi.

BI yakin, ada potensi rupiah kembali menguat. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan menyebut, ada tiga indikator yang menandakan potensi potensi itu.

Baca juga : Akan Bertemu untuk ke-4 Kali, Prabowo-Putin Bestie Banget

Pertama, defisit transaksi berjalan yang masih di kisaran 0,69 persen. Kedua, tekanan inflasi yang masih berada di kisaran target BI sepanjang tahun ini, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen. Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026 menunjukkan, inflasi 3,48 persen.

Ketiga, cadangan devisa masih di kisaran 148,2 miliar dolar AS. Besaran ini di atas standar global untuk memenuhi kewajiban 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Jadi, dari tiga indikator itu, fundamental rupiah baik-baik saja, meski kita bukannya imun terhadap gejolak global," ucapnya.

Erwin mengatakan, tekanan kurs sejauh ini masih terkait dengan faktor risiko di eksternal, bukan masalah fundamental. "Sehingga dalam jangka menengah panjang rupiah punya harapan tren menguat. Kita harus sabar melihat konflik," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.