RM.id Rakyat Merdeka - Data impor minyak dan gas sungguh bikin geleng-geleng kepala. Sebagai negara yang kaya potensi minyak dan gas, Indonesia justru menjadi pengimpor besar. Dari 1,6 juta barel kebutuhan minyak setiap hari, kita hanya mampu memproduksi 600 ribu barel. Sebanyak 1 juta barel sisanya harus impor. Untuk gas juga sama. Dari 8 juta ton kebutuhan elpiji per tahun, produksi dalam negerinya hanya 1,6 juta ton. Sisanya impor.
Kondisi ini jelas sangat berbahaya bagi Indonesia. Sebab, jika tiba-tiba impor tersendat—bisa karena krisis global atau perang—kita akan langsung mengalami krisis. Apalagi, cadangan minyak kita hanya bisa bertahan untuk 21 hari. Jika impor minyak tersendat, kurang dari satu bulan, Indonesia bisa kolaps.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap impor ini membuat harga BBM di dalam negeri susah dijinakkan. Harga BBM non-subsidi terus fluktuatif dan tinggi, mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Saat harga minyak dunia melambung, harga BBM subsidi juga bisa ikut terimbas. Hal ini berbeda dengan negara-negara yang swasembada minyak. Mereka bisa tenang menentukan harga BBM sendiri tanpa harus terpengaruh perkembangan global.
Baca juga : Plus Minus Gubernur Dipilih DPRD
Menghadapi kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto bertekad, dalam tiga tahun pemerintahannya, Indonesia harus mandiri di bidang energi. Mandiri artinya sudah tidak tergantung dengan impor lagi.
Saat ini, produksi minyak kita sedang seret. Sampai pertengahan Oktober 2024, rata-rata lifting minyak kita hanya 578 ribu barel per hari. Angka ini jauh dari target dalam APBN 2024, sebesar 635 ribu barel per hari.
Lalu, apakah kita bisa mandiri di bidang energi? Kalau sungguh-sungguh, tentu bisa. Setidaknya ada tiga jurus yang bisa kita gunakan untuk mencapai mandiri energi. Yaitu meningkatkan produksi migas, meningkatkan penggunaan bioenergi, dan mengurangi konsumsi migas. Jika ingin kemandirian energi dicapai dengan cepat, ketiga jurus ini bisa dilaksanakan berbarengan.
Baca juga : Tetap Baik di Luar Musim Pilkada
Untuk meningkatkan produksi, cadangan minyak kita masih banyak. Sumur-sumur juga banyak. Saat ini, terdapat 301 Wilayah Kerja (WK) migas yang telah melakukan eksplorasi. Di tahun 1977, kita pernah mencapai lifting 1,6 juta barel per hari. Angka tersebut bisa dijadikan acuan untuk kita meningkatkan lifting. Pemerintah pun telah menargetkan, bisa mencapai lifting 1 juta barel per hari pada 2030.
Untuk bioenergi, kita sangat kaya. Indonesia adalah produsen terbesar minyak sawit dunia. Daripada kita meladeni kampanye hitam Uni Eropa terhadap minyak sawit, lebih baik kita optimalkan saja produk tersebut menjadi menjadi bahan bakar. Lakukan penelitian dan pengembangan dengan baik, agar minyak sawit ini tidak hanya digunakan sebagai biodiesel, tapi bisa juga diubah menjadi bensin, bahkan avtur.
Jurus terakhir adalah mengurangi konsumsi. Saat ini, minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik semakin besar. Per Mei 2024, sudah ada 133.225 kendaraan listrik di Indonesia. Tren ini harus dimanfaatkan Pemerintah agar jumlah kendaraan listrik semakin banyak. Caranya, bisa dengan melanjutkan relaksasi pajak dan mendorong para produsen untuk berlomba-lomba berinovasi menciptakan kendaraan listrik yang lebih andal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.