RM.id Rakyat Merdeka - Terkadang, dunia ini terbakar oleh hal-hal “sepele”. Ya, seperti titik api kecil yang muncul entah dari mana, lalu tiba-tiba: BOOM! Terbakar.
Jadi, kalau Anda pejabat, pengambil kebijakan, ingat: jangan main-main. Jangan sembarangan main korek api kebijakan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) misalnya, untung saja segera membatalkan aturan yang menyebutkan bahwa 16 dokumen syarat capres dan wapres, termasuk ijazah, bersifat rahasia. Seolah dokumen tersebut harus disimpan di ruang bawah tanah dengan penjagaan berlapis ekstra ketat.
Kalau peraturan KPU soal kerahasiaan dokumen tersebut tidak dibatalkan, itu bisa menjadi “bahan bakar baru” ketidakpercayaan rakyat. Tentu sangat riskan.
Baca juga : “Ganti Wajah, Ganti Nasib?”
Demo besar akhir Agustus 2025 lalu sudah cukup menjadi pertanda: ada tuntutan mengenai transparansi. Ada desakan betapa pentingnya akuntabilitas dan integritas. Juga ada kritikan terhadap tunjangan dan gaya hidup mewah para pejabat.
Eh, di tengah tuntutan tersebut, KPU malah ingin “bermain-main” dalam gelap. Untuk dokumen capres/cawapres, publik disodori mode rahasia. Untungnya, Selasa (16/9), KPU segera membatalkan peraturan itu. Ini langkah yang bijak.
Di saat yang sama, publik juga disodori berita seorang kepala sekolah SMPN di Prabumulih yang tiba-tiba dicopot. Penyebabnya: diduga karena menegur muridnya, anak walikota, yang membawa mobil ke sekolah.
Di sisi lain, ada juga para pejabat yang “pamer” jam tangan mewah. Atau, anak-istri pejabat yang “memamerkan” tas atau perhiasan mewah. Harganya sampai miliaran. Publik bisa dengan cepat mengetahui harganya karena tersedia di marketplace.
Baca juga : Dari Flexing Ke Aksi
Inilah yang disebut “titik-titik api” itu. Hal-hal yang dianggap “kecil” dan sepele namun bisa membesar begitu cepat.
“Titik-titik api” itu mestinya dicegah dan diwaspadai. Apalagi daya sebar informasi berlangsung sangat cepat. Dari Prabumulih seketika bisa sampai ke Pusat. Dari ujung barat Indonesia secepat kilat bisa sampai ke Jakarta dan ujung timur. Bahkan sampai ke Timor Leste dan Asia Selatan.
Ditambah jaringan sosial yang kuat, seperti gerakan mahasiswa, aktivis, atau bahkan sekadar meme-viral, “titik-titik api” kecil bisa tiba-tiba menyebar dan membesar.
Karena itu, pikirkanlah matang-matang dalam membuat kebijakan. Jaga sikap sebagai seorang pejabat. Jangan ciptakan “titik-titik api” baru.
Baca juga : Mengawal “Kue Rampasan”
Presiden Prabowo misalnya sudah memerintahkan para pejabat: “jangan flexing”. Jangan korup.
Jangan lukai hati rakyat. Mestinya, warning serius ini sudah cukup menjadi pengingat. Didengar dan dipatuhi.
Dalam dunia yang serba tak terduga, kesadaran akan bahaya sekecil apa pun, sangatlah dibutuhkan. Hindari hal-hal yang bisa membuat publik marah. Sikap itu mestinya menjadi standar utama para pejabat.
Sekali lagi, bijaksanalah. Berhati-hatilah. Hayati dan selamilah suara hati dan perasaan rakyat. Jangan anggap sepele bahkan satu korek api pun. Apalagi kalau korek itu jatuh di daun-daun kering di musim panas. Dia bisa membakar hutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.