Dark/Light Mode

Matinya Empati

Kamis, 28 Agustus 2025 06:24 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa pekan ini, ada yang hilang di DPR. Apa itu? Empati!

Publik mencatat kelakuan dan pernyataan sejumlah anggota DPR yang menandai hilangnya empati tersebut. Tak heran kalau pada 25 Agustus lalu, DPR didemo. Seruan “Bubarkan DPR” menggema di media sosial.

Hari ini, di beberapa titik di Indonesia, giliran buruh yang beraksi. Pimpinan buruh mengklaim, di Jakarta saja peserta aksi akan mencapai 10.000 orang.

Aksi unjuk rasa apa pun, itu bukanlah sekadar berapa besar dan keras rakyat bersuara. Namun, yang paling penting: seberapa keras DPR mau mendengarkan, melaksanakan dan berempati.

Baca juga : Terjebak “Sultan” 

Empati, sebuah kata yang mestinya menjadi dasar dari segala kebijakan, seolah hilang entah kemana. Dalam beberapa isu, DPR seperti terlepas dari realitas keseharian rakyat. Empati seperti mati.

Rakyat yang berunjuk rasa adalah bukti betapa rapuh dan berjaraknya hubungan antara DPR dan rakyat. Rakyat merasa ditinggalkan. Sementara DPR seperti bermain dalam dunianya sendiri. Ataukah DPR menganggap suara rakyat sebagai gangguan?

Di sinilah pentingnya empati. Empati bukan hanya soal mendengarkan atau menampung, tetapi ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.

DPR jangan terjebak dalam egonya. Ego parpolnya. Ego kelompoknya. Ego serta kepentingan yang tidak memihak rakyat, yang dititipkan orang lain dengan menggunakan tangan konstitusional DPR. Jangan. Itu melukai rakyat.

Baca juga : Mengapa Terlena Dan Masih Nekat?

Sesungguhnya, di tengah kondisi yang “belum baik-baik saja”, tidak ada yang lebih menyedihkan dari satu lembaga serta wakil rakyat yang kehilangan empati dan roh kerakyatan.

DPR mestinya menjadi tempat terbaik di mana suara rakyat diperjuangkan. Bukan tempat di mana kebijakan dibuat untuk kepentingan serta keuntungan segelintir orang.

DPR harus kembali pada tugas utamanya: menjadi Wakil Rakyat sesungguhnya. Empati adalah salah satu kunci untuk membangun kepercayaan rakyat.

Tanpa itu, DPR akan semakin jauh dan hilang dari hati rakyat. Tanpa empati, DPR hanya akan membicarakan angka-angka dan statistik. Bukan membicarakan dan memperjuangkan Rakyat (dengan huruf R besar).

Baca juga : Kejujuran Yang Ironik

Saatnya DPR mendengarkan dan merasakan serta menunaikan janji dan tugas mulianya. Bukan hanya lewat bahasa kebijakan, tetapi berbicara dalam bahasa dan roh kerakyatan.

Hanya dengan itu, rakyat akan merasa bahwa mereka masih punya wakil yang peduli pada nasib mereka. Rakyat akan merasakan manfaat kehadiran lembaga DPR. Bukan sebaliknya.

Tanpa empati, rakyat akan terus berdemo di depan pagar dan gedung DPR. Dalam jumlah yang kian besar dan rutin. Sementara di sisi lain, DPR akan terus “menutup kuping” dan menghindar. Keduanya semakin mengeras. Makin menjauh. Bukan mendekat.

Saat itulah empati menghilang dan tragedi demokrasi pun dimulai. Hindari. Jangan sampai itu terjadi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.