RM.id Rakyat Merdeka - Aroma tahun politik kian semerbak. Di ruang-ruang elite, poros-poros baru mulai terbentuk; pertemuan-pertemuan tertutup mewarnai layar televisi dan linimasa media sosial. Namun, satu hal tetap terasa hampa: rakyat jarang diajak bicara, apalagi didengarkan. Politik kembali menjadi panggung kekuasaan, bukan percakapan peradaban.
Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) pernah menyampaikan bahwa bangsa—dan politik sebagai ekspresinya—hanya bisa bertahan jika masyarakat merasa menjadi bagiannya. Tanpa rasa keterlibatan itu, politik hanya menjadi ritual kosong, bahkan menjelma menjadi sumber kejenuhan dan sinisme.
Baca juga : Rakyat, Bukan Statistik
Rakyat tidak membutuhkan drama elite. Mereka membutuhkan kejelasan arah, keberpihakan nyata, dan pemimpin yang tidak hanya muncul saat kampanye. Politik akan kehilangan maknanya jika tercerabut dari realitas hidup rakyat—kemiskinan, ketimpangan, keresahan terhadap harga pangan, dan lemahnya jaring pengaman sosial.
Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan sekadar kuat, populer, atau piawai mengatur pencitraan. Tapi ia harus membumi—mengerti suara petani, pedagang kaki lima, guru honorer, dan anak-anak muda yang terpinggirkan dari diskursus pembangunan. Seperti digambarkan oleh Robert Greenleaf dalam gagasan servant leadership, pemimpin sejati adalah pelayan terlebih dahulu.
Baca juga : Evaluasi Tanpa Rakyat
Rakyat kini perlu menuntut lebih dari sekadar keterwakilan. Mereka harus meminta relevansi—apakah wakil rakyat benar-benar mewakili nurani dan kebutuhan mereka? Di tengah krisis kepercayaan, demokrasi tidak cukup dengan prosedur elektoral. Ia membutuhkan kedalaman moral dan keintiman sosial.
Bulan depan adalah awal konsolidasi besar. Partai-partai akan mulai menguatkan barisan, aktor-aktor politik akan saling menjajaki. Namun, yang harus diperkuat pertama-tama adalah koneksi spiritual dan sosial antara rakyat dan negara. Tanpa itu, semua manuver politik hanyalah rekayasa kuasa, bukan jalan keadilan.
Baca juga : Politik Yang Menderas Ke Bawah
Politik akan menjadi kekuatan peradaban jika ia mengalir seperti sungai: dari bawah, menghimpun suara yang tercecer, dan memberi kehidupan di sepanjang alirannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.