RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang tahun politik, kita disuguhi lagi parade wajah dan janji. Di televisi, di baliho, di media sosial, mereka tersenyum lebar seolah sudah takdir mereka untuk menyelamatkan bangsa ini. Tapi di balik senyum itu, publik mulai bertanya: apakah masih ada akhlak di balik kursi? Sebab kekuasaan di negeri ini tampak kian lihai berpidato, namun kian miskin makna.
Kekuasaan, kata Hannah Arendt, dalam Responbility and Judgment, hanya bisa dipertanggungjawabkan jika dijalankan dengan kesadaran moral. Tapi, di republik ini, tanggung jawab sering kali berhenti di bibir. Banyak pejabat menganggap kekuasaan sebagai panggung nasib, bukan amanah publik. Lalu rakyat disuruh percaya, padahal yang dijual bukan integritas, melainkan pencitraan.
Baca juga : Politik yang Membumi
Politik kita semakin pandai memproduksi simbol, tapi gagal menanam nilai. Di bawah spanduk “perubahan”, sering bersembunyi ambisi pribadi. Di balik kata “rakyat”, terselip hitung-hitungan elektoral. Seperti yang pernah dikatakan Arendt, kejahatan terbesar dalam politik bukanlah kekerasan, melainkan ketiadaan berpikir secara moral birokrasi yang memutus nurani dari keputusan.
Krisis akhlak ini tak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari budaya politik yang menukar martabat dengan jabatan, dan menganggap kemenangan sebagai pembenaran moral. Dalam atmosfer seperti ini, politisi baik justru tampak aneh, dan yang jujur dicurigai tidak realistis. Maka, yang tersisa hanyalah ritual formal demokrasi tanpa ruh, tanpa rasa malu.
Baca juga : Rakyat, Bukan Statistik
Padahal, moral bukanlah hiasan dalam kekuasaan. Ia fondasi yang menahan agar kursi tidak goyah. Tanpa akhlak, kursi hanyalah alat duduk bagi ambisi. Negara pun berubah menjadi ruang transaksi: siapa punya akses, siapa punya proyek, siapa punya foto bersama pejabat.
Rakyat sudah terlalu sering dikecewakan. Mereka kini bisa membedakan antara yang bekerja dan yang bersandiwara. Karena itu, politik hari ini membutuhkan bukan sekadar kecerdasan strategi, tetapi kejernihan batin pemimpin yang berani mengakui salah, bukan hanya mengaku siap. Sebab bangsa ini tak akan runtuh karena kurang pintar, tapi karena kehilangan malu.
Baca juga : Evaluasi Tanpa Rakyat
Menjelang pemilu, mari kita ingat satu hal sederhana: kursi hanyalah benda mati. Yang membuatnya hidup adalah akhlak orang yang duduk di atasnya. Dan jika kursi sudah kehilangan nurani, maka yang runtuh bukan hanya pemerintahan tapi kemanusiaan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.