BREAKING NEWS
 

Rasionalitas yang Retak

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Jumat, 7 November 2025 04:48 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kita hidup di zaman ketika emosi lebih cepat viral daripada pikiran. Dalam politik, kecepatan kini mengalahkan kedalaman. Isu bisa lahir pagi, membakar sore, dan lenyap sebelum tengah malam. Namun, bekasnya tetap menganga: polarisasi sosial yang tak kunjung sembuh. Demokrasi kita, yang dulu dibangun di atas nalar publik, kini seperti hidup di ruang gema—ramai tapi miskin makna.

Cass Sunstein, dalam bukunya #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media (2017), menyebut fenomena ini sebagai “echo chamber democracy”—masyarakat yang hanya mendengar suara yang ingin mereka dengar. Media sosial, kata Sunstein, menciptakan gelembung kognitif yang memperkuat keyakinan lama dan menolak perbedaan. Akibatnya, diskursus publik kehilangan fungsi deliberatifnya; perdebatan berubah menjadi serangan pribadi, dan fakta tersisih oleh fanatisme algoritmik.

Baca juga : Rekam Jejak yang Hilang

Dalam konteks Indonesia menjelang tahun politik, gejala ini kian nyata. Setiap unggahan tentang tokoh politik langsung memicu hujan komentar yang bukan berbasis argumen, tapi loyalitas emosional. Rasionalitas publik kian retak karena politik telah berubah menjadi agama baru—lengkap dengan imam, jamaah, dan fatwa digitalnya. Kebenaran kini ditentukan oleh siapa yang lebih viral, bukan siapa yang lebih jujur.

Adsense

Masalahnya bukan hanya pada teknologi, tapi pada budaya politik yang membiarkan kebodohan mengalir tanpa filter. Kita lebih sibuk menciptakan musuh daripada membangun gagasan. Setiap perbedaan pandangan langsung dicap “pengkhianat” atau “buzzer lawan”. Padahal demokrasi sejati justru tumbuh dari ketegangan yang rasional, bukan dari keseragaman yang dipaksakan.

Baca juga : Akhlak Di Balik Kursi

Sunstein mengingatkan bahwa demokrasi tak bisa bertahan jika warga kehilangan kapasitas berpikir reflektif. Politik tanpa rasionalitas akan menjelma menjadi tribal—kelompok yang bergerak bukan karena gagasan, tapi karena amarah. Dan di titik itu, kebenaran hanyalah efek suara, bukan hasil berpikir.

Mungkin inilah ironi zaman digital: di tengah limpahan informasi, publik justru makin kehilangan kemampuan untuk menimbang. Kita punya data, tapi kehilangan makna. Kita punya opini, tapi miskin orientasi. Kita punya jutaan “teman” di media sosial, tapi semakin jauh dari percakapan yang jujur dan waras.

Baca juga : Politik yang Membumi

Maka yang kita perlukan hari ini bukan hanya literasi digital, tapi literasi moral dan rasionalitas—kemampuan untuk mendengar sebelum menilai, berpikir sebelum membalas, memahami sebelum menghujat. Demokrasi tanpa nalar adalah pesta tanpa arah; ramai, tapi tak membawa pulang apa-apa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense