Dark/Light Mode

Rekam Jejak yang Hilang

Rabu, 5 November 2025 04:41 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Kita hidup di zaman yang gemar memulai ulang tanpa pernah menuntaskan. Tiap tahun, tiap kabinet, tiap rezim, selalu bicara tentang “babak baru”, “era baru”, “visi baru”. Tapi, di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari politik Indonesia: ingatan. Kita tampaknya telah berubah menjadi bangsa yang rajin melupakan—baik kesalahan, dosa publik, maupun janji yang tak pernah ditepati.

Dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari menulis bahwa bangsa yang kehilangan narasi sejarahnya akan kehilangan orientasi moralnya. Tanpa memori, politik akan berputar di lingkaran kosong—menjadi sekadar pertunjukan dari orang-orang yang berbeda dengan naskah yang sama. Di negeri ini, setiap pergantian pejabat seolah menjadi tombol reset: janji lama lenyap, tanggung jawab menguap, dan publik disuguhi retorika seolah semuanya dimulai dari nol.

Baca juga : Akhlak Di Balik Kursi

Yang paling ironis, mereka yang seharusnya belajar dari kesalahan justru paling cepat melupakannya. Pejabat yang gagal di satu lembaga, dengan mudah muncul di lembaga lain, membawa slogan serupa. Proyek gagal diberi nama baru, kesalahan administratif ditutup dengan program darurat. Dalam siklus itu, tanggung jawab publik diganti dengan permainan persepsi. Kita menciptakan demokrasi yang sibuk berdandan, tapi tak pernah berkaca.

Bangsa ini menderita semacam amnesia politik nasional—dan penyakit itu menular. Rakyat terbiasa menerima pengulangan kegagalan karena kehilangan harapan akan perubahan yang sejati. Media memperkuatnya dengan euforia sesaat: hari ini marah, besok lupa. Padahal, seperti diingatkan Harari, peradaban hanya bisa maju bila ingatannya terjaga—bila sejarah berfungsi sebagai rem moral, bukan sekadar arsip di museum.

Baca juga : Politik yang Membumi

Kepemimpinan tanpa ingatan bukanlah kepemimpinan, melainkan administrasi kekuasaan. Sebab, hanya mereka yang mau menatap ke belakang dengan jujur, yang mampu melangkah ke depan dengan benar. Dalam konteks ini, pejabat publik bukan hanya diukur dari keberhasilan membangun, tapi juga dari keberanian mengakui kegagalan dan belajar darinya.

Mungkin inilah mengapa bangsa ini terus tersandung di batu yang sama. Kita terlalu cepat memaafkan tanpa meminta perbaikan, dan terlalu sibuk merayakan “optimisme” tanpa refleksi. Lupa telah menjadi kebiasaan politik—dan kebiasaan itu berbahaya. Sebab bangsa yang lupa pada kesalahannya, akan terus mengulang tragedinya.

Baca juga : Rakyat, Bukan Statistik

Rekam jejak seharusnya bukan sekadar catatan di arsip pemerintahan, melainkan kompas moral bangsa. Jika pemimpin tak lagi mau belajar dari sejarah, maka masa depan pun hanya akan jadi versi baru dari kegagalan yang sama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.