BREAKING NEWS
 

Negara yang Belajar

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 23 Februari 2026 08:01 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara dewasa bukan yang sempurna, tetapi yang mau berubah. Setelah serangkaian kebijakan diuji di awal tahun, pertanyaan paling mendasar bukan lagi siapa yang salah, melainkan apakah negara mampu belajar. Kesalahan bisa dimaklumi, pengulangan sulit dimaafkan.

Belajar dalam politik bukan sekadar evaluasi administratif. Ia menuntut perubahan cara berpikir. Dari mempertahankan citra menuju memperbaiki dampak. Dari menutup kritik menuju memanfaatkannya. Negara yang belajar tidak alergi pada koreksi; ia menjadikannya sumber pengetahuan.

Baca juga : Pemimpin Saat Salah

Namun yang sering terjadi adalah evaluasi yang bersifat ritual. Laporan disusun, indikator ditampilkan, kesimpulan ditarik. Di atas kertas, semuanya terlihat rapi. Di lapangan, masalah yang sama muncul kembali dengan wajah baru. Belajar berhenti pada dokumen, tidak menjelma menjadi tindakan.

Adsense

Belajar juga memerlukan keberanian mengakui keterbatasan. Tidak semua kebijakan berhasil, tidak semua asumsi tepat. Ketika negara berani mengatakan “kami perlu memperbaiki,” di situlah kepercayaan mulai pulih. Kejujuran sering lebih menyembuhkan daripada klaim keberhasilan.

Baca juga : Etika yang Terlewat

Chris Argyris membedakan single-loop learning—sekadar memperbaiki kesalahan teknis—dengan double-loop learning, yaitu meninjau ulang asumsi dasar di balik kebijakan (On Organizational Learning, 1999). Negara yang hanya memperbaiki permukaan akan terus berputar pada masalah yang sama. Negara yang berani mengoreksi asumsi memiliki peluang berubah.

Belajar berarti mengubah kebiasaan. Mempercepat respons, menyederhanakan prosedur, dan membuka ruang partisipasi. Ia tidak menunggu krisis besar untuk bergerak, tetapi membaca sinyal kecil sejak awal. Perubahan kecil yang konsisten sering lebih bermakna daripada reformasi besar yang tertunda.

Baca juga : Kursi dan Risiko

Negara yang belajar tidak takut terlihat belum selesai. Ia lebih memilih berkembang daripada tampak sempurna. Dalam politik, kematangan bukan diukur dari minimnya kesalahan, tetapi dari kesungguhan memperbaiki. Dan dari situlah arah ke depan bisa dijaga—bukan dengan janji, melainkan dengan pembelajaran yang nyata.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense