Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pemimpin paling mudah dinilai saat ia benar. Ia dipuji, dipeluk angka survei, dielu-elukan pendukung. Namun watak sejati terlihat saat ia salah. Bukan salah karena diserang lawan, melainkan salah karena keputusan sendiri tak berjalan seperti rencana. Di titik itu, karakter berbicara lebih keras daripada pidato.
Kesalahan dalam kebijakan adalah keniscayaan. Tidak ada pemerintahan tanpa kekeliruan. Yang membedakan adalah responsnya. Ada yang defensif—mencari kambing hitam, memoles narasi, atau menyalahkan keadaan. Ada yang reflektif—mengakui, memperbaiki, dan membuka ruang koreksi. Dua jalan ini menentukan arah kepercayaan publik.
Baca juga : Etika yang Terlewat
Sering kali, kekuasaan tergoda untuk mempertahankan citra ketimbang mengakui kekurangan. Padahal publik tak menuntut kesempurnaan; mereka menuntut kejujuran. Pengakuan salah bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian moral. Menutupinya justru memperbesar keretakan.
Kesalahan yang tak diakui berubah menjadi pola. Kritik dianggap gangguan, bukan masukan. Sistem membela diri alih-alih belajar. Dalam suasana seperti ini, warga berhenti berharap pada perbaikan, dan sinisme tumbuh diam-diam. Pemimpin kehilangan bukan hanya legitimasi, tetapi juga wibawa.
Carol Dweck dalam riset tentang growth mindset menunjukkan bahwa kemauan untuk mengakui kekeliruan dan belajar darinya adalah prasyarat pertumbuhan—baik individu maupun institusi (Mindset, 2006). Kepemimpinan yang matang memahami bahwa koreksi adalah bagian dari kekuatan, bukan ancaman terhadap otoritas.
Tanggung jawab publik tidak berhenti pada permintaan maaf. Ia menuntut tindakan korektif yang jelas: audit terbuka, perubahan kebijakan, dan perlindungan bagi yang terdampak. Tanpa langkah konkret, pengakuan hanya menjadi retorika yang cepat dilupakan.
Baca juga : Keadilan Tak Netral
Pemimpin saat salah memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya. Apakah ia memelihara gengsi, atau menjaga kepercayaan? Sejarah tidak mencatat siapa yang tak pernah keliru, tetapi siapa yang berani memperbaiki. Dan dalam politik, keberanian memperbaiki sering lebih berharga daripada klaim tak pernah salah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.