Dark/Light Mode

Kursi dan Risiko

Senin, 16 Februari 2026 07:58 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Kekuasaan selalu berbicara tentang stabilitas. Ia menyebutnya syarat pertumbuhan, prasyarat investasi, jaminan ketertiban. Namun jarang ditanya: stabil bagi siapa, berisiko bagi siapa? Di balik kursi yang nyaman, risiko sering dialihkan ke mereka yang tak punya sandaran.

Februari memperlihatkan pola lama itu. Keputusan besar ditunda demi menjaga “kondusivitas”. Reformasi sensitif diperlambat agar tak mengganggu keseimbangan politik. Sementara itu, warga yang paling rentan tetap menanggung dampak kebijakan setengah jadi—harga tak menurun, akses belum membaik, perlindungan tak merata. Stabilitas terasa di ruang rapat, bukan di ruang hidup.

Baca juga : Keadilan Tak Netral

Menghindari risiko adalah naluri kekuasaan. Kursi dirawat, koalisi dijaga, angka dukungan dihitung. Namun stabilitas yang dibangun di atas penundaan keadilan justru menyimpan ledakan kecil yang berulang. Yang diredam hari ini bisa menjadi krisis esok hari.

Risiko dalam politik bukan sekadar soal elektabilitas. Ia adalah konsekuensi dari keberanian memilih yang sulit. Tanpa kesiapan menanggung risiko, kebijakan cenderung kompromistis—cukup aman untuk bertahan, terlalu lemah untuk memperbaiki. Hasilnya bukan perubahan, melainkan pengulangan.

Baca juga : Hak yang Menyempit

Ulrich Beck mengingatkan bahwa masyarakat modern hidup dalam “risk society,” ketika distribusi risiko sering tidak merata—yang kuat bisa mengalihkan, yang lemah menanggung (Risk Society, 1992). Dalam politik, penghindaran risiko di atas sering berarti penumpukan risiko di bawah.

Pertanyaannya bukan apakah risiko harus dihindari, melainkan siapa yang menanggungnya. Kepemimpinan yang beretika menanggung lebih dulu, bukan memindahkan. Ia memilih risiko politik untuk mengurangi risiko sosial. Ia siap kehilangan kenyamanan demi mengurangi ketidakpastian warga.

Baca juga : Layanan Tak Sabar

Kursi yang kuat bukan yang bebas risiko, melainkan yang berani memikulnya. Stabilitas sejati lahir ketika keadilan tidak ditunda demi rasa aman semu. Jika kekuasaan terus menghindar, risiko tak hilang—ia hanya berpindah, menunggu waktu untuk kembali.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.