RM.id Rakyat Merdeka - Rupanya, bukan hanya kursi kekuasaan yang bisa diperjualbelikan. Kursi mahasiswa pun, diduga, ikut dinegosiasikan. Seperti kursi mebel.
Tengah pekan lalu, KPK menangkap Rektor Unsoed dalam dugaan suap penerimaan mahasiswa baru. Empat belas orang diamankan di Purwokerto dan Jakarta. Uang tunai ratusan juta rupiah disita. Pertanyaannya, masihkah kampus rumah bagi meritokrasi, etika dan kejujuran? Atau, ada yang sudah berubah jadi pasar gelap kursi akademik, menjual pintu masuk beserta seperangkat kursi dan bangku kuliahnya?
Kasus ini sedang berjalan. Proses hukum harus dihormati. Asas praduga tak bersalah tetap berlaku. Tapi andai dugaan ini terbukti, persoalannya tak berhenti pada siapa memberi dan siapa menerima.
Baca juga : Belanja Dengan Kacamata Baru
Korupsi di kampus punya dampak yang jauh lebih panjang dari nilai uang yang disita. Yang dicuri bukan hanya uang. Yang hilang adalah kepercayaan, trust, salah satu yang paling berharga dari sebuah bangsa.
Kasus ini juga seolah “mengajari” Gen Z, generasi yang akan mengemudikan bangsa ini 10-20 tahun ke depan. Pelajarannya buruk: aturan bisa dinegosiasikan, bisa diatur sesuai kepentingan. Dan, jabatan adalah ladang keuntungan pribadi.
Karena itu, kasus Unsoed mesti jadi pintu masuk untuk memperbaiki tata kelola penerimaan mahasiswa baru secara menyeluruh.
Baca juga : Nawar, Hemat 360 Triliun!
Bukan sekadar tata kelola satu kampus, tapi pola yang mungkin saja berulang di banyak tempat. Kita tentu ingat kasus serupa di Unila beberapa tahun lalu.
Selain itu, kalau pun rektornya diganti, jangan berhenti di situ. Periksa juga cara memilihnya. Uji ulang: cukup kuatkah mekanisme pemilihan rektor untuk mencegah penyalahgunaan wewenang?
Sebab, jika setiap skandal korupsi (di kampus) diselesaikan hanya dengan mengganti orang, kita sedang melakukan reformasi kosmetik. Wajahnya memang baru. Tapi, konsentrasi kekuasaan tetap sama. Transparansi tetap minim. Pengawasan tetap lemah.
Baca juga : Mengetuk Pintu Rumah Sendiri
Kita tidak butuh kampus yang sekadar mencetak sarjana. Kita butuh kampus yang mengajarkan dan memberi teladan anti-korupsi. Ini “mata kuliah” yang sangat penting.
Sebab, ketika pintu masuk kampus bisa dibeli, yang sebenarnya dijual bukan cuma kursi mahasiswa. Yang dijual adalah kepercayaan pada masa depan. Harga ini sungguh sangat mahal.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 23 Agustus 2026 dengan judul "Menjual Pintu Masuk"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.