Dark/Light Mode
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Angin reshuffle berembus lagi. Beberapa parpol sudah bersuara, tapi istana membantah dengan mengatakan “belum ada”. Bukan tidak, tapi belum.
Kalaupun ada reshuffle, satu kriteria mestinya berdiri paling depan: rekam jejak integritas. Bukan (sekadar) loyalitas. Bukan jatah koalisi. Tapi integritas.
Alasannya sederhana. Kabinet hari ini bekerja di tengah tekanan fiskal yang ketat. Tantangan geopolitik sangat berat. investor mengintip setiap sinyal tata kelola. Dan, agenda-agenda besar yang rawan disusupi kepentingan sesaat.
Di tengah semua itu, menteri atau pejabat serta pimpinan lembaga yang bermasalah adalah bom waktu. Cakap secara teknis saja tidak cukup. Begitu dia tersandung kasus hukum, program berhenti, kepercayaan rakyat dan investor goyah, lalu istana sibuk memadamkan api, bukan menjalankan program.
Baca juga : Generasi Digital, Politiknya Analog
Anginnya pun pas. Enak. Bahkan dari dalam koalisi sendiri muncul dorongan agar sosok baru dipilih karena kapasitas dan rekam jejak, bukan karena “hitung-hitungan kursi politik”.
Artinya, ada alasan kuat untuk memilih yang terbaik bagi bangsa dan negara. Bukan kepentingan lain. ini menegaskan satu hal: jabatan atau kursi menteri adalah amanah kerja, amanah rakyat, bukan hadiah politik.
Integritas sangat penting, dan perlu diuji serius. Bukan sekadar asumsi, apalagi kalau hanya mengandalkan nama besar dan dukungan politik.
Penelusuran rekam jejak mesti melibatkan KPK, PPATK, dan Kejaksaan secara bermakna. Itu dilakukan sebelum nama diumumkan, bukan setelah publik ribut dan akhirnya terpaksa diklarifikasi.
Baca juga : Bukan Manajer APBD
Riwayat organisasi yang pernah dipimpin calon menteri juga perlu ditelusuri. Begitu pula potensi benturan kepentingan. Kepentingan apa pun. Kandidat bukan cuma bersih dari catatan pidana, tapi juga bersih dari potensi masalah baru yang akan timbul.
Godaan untuk mengalah pada pertimbangan lain akan selalu ada. Keseimbangan koalisi. Representasi daerah dan partai. Kalkulasi menuju 2029. Macam-macam. Semua itu nyata dan “relatif” penting.
Tapi, lihat lagi kursi kosong tadi dalam-dalam. Kursi yang akan mengurus 290 juta rakyat dan yang akan membawa program-program penting Presiden. Karena, satu kasus korupsi saja sudah cukup mengacaukan ritme pemerintahan selama berbulan-bulan.
Karena itu, mengorbankan integritas demi kalkulasi politik jangka pendek adalah taruhan yang sangat mahal kalau terus berulang.
Baca juga : Di Balik Pagar Tinggi
Kita tunggu. Kalau pun ada reshuffle, skalanya mungkin tidak terlalu besar. Tapi, tetap ada masalah serius yang akan dipertaruhkan: kredibilitas pemerintahan.
Sekali integritas dikorbankan demi kompromi politik, yang hilang bukan hanya kepercayaan kepada seorang menteri atau partainya, tetapi kepercayaan kepada pemerintah secara keseluruhan. Ini harga yang sangat mahal.
Bagi rakyat, reshuffle bukan soal siapa yang keluar dan siapa yang masuk. Sebab, rakyat tidak terlalu menunggu daftar nama-nama baru. Yang ditunggu rakyat: hasil konkret. Bukan “siapa”. Sesederhana itu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.