RM.id Rakyat Merdeka - Agustus hampir selesai. Bendera mulai diturunkan. Spanduk kemerdekaan mulai kusam. Panggung-panggung negara mulai dibongkar. Lagu-lagu perjuangan kembali masuk arsip tahunan. Setelah semua seremoni itu lewat, republik kembali berhadapan dengan pertanyaan paling sederhana: setelah merdeka, apa?
Di situlah ironi kemerdekaan bekerja. Selama Agustus, negara fasih berbicara tentang berdaulat, adil, dan makmur. Tetapi September akan datang membawa ujian yang lebih sunyi: harga yang harus dibayar, hukum yang harus ditegakkan, sekolah yang harus dibuka, pangan yang harus tersedia, pekerjaan yang harus diciptakan, dan rasa adil yang harus dibuktikan. Setelah bendera turun, republik kembali diuji oleh hal-hal biasa.
Bagi rakyat kecil, kemerdekaan tidak berakhir di lapangan upacara. Ia berlanjut di pasar, dapur, sekolah, puskesmas, sawah, pabrik, warung, terminal, dan jalan kampung. Mereka tidak menolak simbol. Mereka hormat kepada merah putih. Tetapi mereka juga tahu, bendera tidak menggantikan beras, lagu kebangsaan tidak membayar biaya sekolah, dan pidato tidak otomatis membuat hukum berlaku sama kepada semua orang.
Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth mengingatkan bahwa kemerdekaan politik tidak otomatis melahirkan pembebasan substantif. Setelah kolonialisme pergi, sebuah bangsa masih bisa terjebak dalam ketimpangan, elite baru, bahasa pembangunan yang megah, dan rakyat yang tetap menunggu giliran menikmati kemerdekaan. Fanon keras karena ia ingin mengingatkan: kemerdekaan yang berhenti pada penggantian penguasa belum tentu membebaskan manusia.
Baca juga : Maulid Tanpa Akhlak
Titik buta kekuasaan adalah mengira kemerdekaan cukup diperingati, bukan diteruskan. Padahal kemerdekaan adalah pekerjaan harian. Ia menuntut negara menjaga rakyat dari lapar, takut, mahal, bodoh, sakit, dan diperlakukan tidak adil. Ia menuntut elite tidak hanya mencintai republik ketika kamera menyala. Ia menuntut pejabat tidak hanya berdiri tegak saat upacara, tetapi juga tegak saat harus berkata benar kepada kelompoknya sendiri.
Karena itu, penutup Agustus harus menjadi awal koreksi. Turunkan bendera, tetapi jangan turunkan tanggung jawab. Simpan spanduk, tetapi jangan simpan janji. Selesaikan pekerjaan dasar: pangan yang terjangkau, sekolah yang bermutu, hukum yang adil, bansos yang tepat, aparat yang melindungi, data yang tidak menyingkirkan orang miskin, dan pembangunan yang tidak hanya menguntungkan mereka yang dekat dengan pusat kuasa.
Setelah merdeka, apa? Jawabannya bukan seremoni berikutnya. Jawabannya adalah republik yang bekerja tanpa harus selalu berfoto. Kemerdekaan sejati tidak berisik, tetapi terasa. Ia hadir ketika rakyat kecil bisa hidup lebih tenang, lebih aman, lebih adil, dan lebih bermartabat. Sebab bangsa tidak selesai ketika bendera dikibarkan. Bangsa justru dimulai ketika bendera diturunkan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.