Dark/Light Mode
- Profil Jay Herdman, Putra Pelatih Timnas yang Jadi Andalan Baru Bali United
- Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
- Fitrah Maulana Bangga Bawa Persib Juara Dewata Challenge Series
- STY Puji Perkembangan Persija Usai Laga Uji Coba Di Thailand
- Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Rakyat diminta berhemat. Negara bicara efisiensi. Anggaran disisir, belanja dipilih ulang, program diperiksa, defisit dijaga. Semua terdengar masuk akal. Tetapi ada satu pertanyaan yang selalu mengganggu: apakah elite juga ikut mengencangkan ikat pinggang, atau hanya rakyat yang disuruh mengecilkan napas?
Di situlah ironi fiskal bekerja. Efisiensi sering terdengar gagah ketika dibacakan dalam pidato. Tetapi ia cepat kehilangan wibawa bila perjalanan dinas tetap gemuk, rapat tetap mewah, seremoni tetap panjang, fasilitas tetap nyaman, dan pejabat tetap memperlakukan negara seperti ruang tunggu bandara kelas bisnis. Rakyat diminta sabar. Elite jangan piknik.
Baca juga : Merdeka Jangan Palsu
Bagi rakyat kecil, penghematan bukan istilah kebijakan. Penghematan adalah lauk yang dikurangi, listrik yang dihemat, ongkos yang dihitung, sekolah anak yang dicicil, dan utang warung yang diperpanjang. Mereka tidak punya protokol, ajudan, mobil dinas, tiket dinas, atau ruang VIP. Jika negara meminta rakyat memahami tekanan fiskal, rakyat berhak meminta elite memahami tekanan hidup.
Thorstein Veblen dalam The Theory of the Leisure Class menyebut perilaku kelas atas yang gemar memamerkan konsumsi sebagai tanda status. Kemewahan bukan hanya soal benda. Ia bahasa kekuasaan. Di negeri yang masih dipenuhi ketimpangan, gaya hidup elite selalu berbicara lebih keras daripada pidato mereka. Satu foto pesta bisa merusak sepuluh pidato empati. Satu fasilitas berlebihan bisa membuat kata efisiensi terdengar seperti lelucon mahal.
Baca juga : Pidato Belum Pangan
Titik buta kekuasaan adalah mengira rakyat tidak memperhatikan detail. Padahal rakyat membaca gestur. Mereka melihat siapa yang meminta hemat dan siapa yang tetap nyaman. Mereka mendengar pejabat bicara pengorbanan, lalu melihat acara negara yang boros. Mereka diminta percaya bahwa anggaran terbatas, tetapi melihat kekuasaan seperti tidak pernah kekurangan cara untuk memanjakan dirinya sendiri. Di situ rasa adil mulai retak.
Karena itu, efisiensi harus dimulai dari atas. Pangkas perjalanan yang tidak perlu. Kurangi seremoni. Batasi fasilitas mewah. Buka belanja pejabat secara transparan. Jadikan rapat benar-benar menghasilkan keputusan, bukan sekadar konsumsi dan dokumentasi. Jangan jadikan rakyat sebagai tempat pertama penghematan, sementara elite menjadi tempat terakhir pengorbanan. Empati kekuasaan harus terlihat dalam cara negara membelanjakan uang.
Baca juga : Dapur Masih Berasap
Negara boleh meminta rakyat bersabar. Tetapi kesabaran rakyat tidak boleh diperlakukan sebagai subsidi untuk kenyamanan elite. Republik yang sehat bukan hanya pandai mengatur defisit. Ia juga tahu malu dalam menikmati fasilitas. Jika rakyat diminta hemat, elite harus berhenti piknik di atas anggaran.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.