Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Hari ini negara akan mendengar pidato kenegaraan. Gedung parlemen disiapkan. Para pejabat hadir. Kamera menyala. Naskah dibacakan dengan rapi. Republik, seperti biasa menjelang 17 Agustus, akan terdengar besar, percaya diri, dan penuh janji.
Di situlah ironi kemerdekaan bekerja. Pidato bisa membuat negara terdengar kuat. Tetapi dapur rakyat lebih jujur daripada naskah kenegaraan. Di mimbar, pembangunan bisa tampak megah. Di pasar, ia diuji oleh harga beras, telur, cabai, minyak, ongkos sekolah, dan sisa uang belanja yang makin tipis sebelum bulan selesai.
Baca juga : Dapur Masih Berasap
Rakyat kecil tidak anti-pidato. Mereka tahu negara perlu menjelaskan arah. Tetapi rakyat juga tahu bahwa kalimat indah tidak bisa direbus menjadi nasi. Janji kedaulatan pangan tidak otomatis membuat harga stabil. Kalimat tentang kemakmuran tidak otomatis membuat warung memberi utang lebih panjang. Bagi rakyat, pidato paling meyakinkan bukan yang paling lantang, melainkan yang paling terasa di piring.
Jürgen Habermas dalam The Structural Transformation of the Public Sphere mengingatkan pentingnya ruang publik tempat kekuasaan diuji oleh nalar warga. Pidato kenegaraan bukan sekadar seremoni satu arah. Ia harus menjadi bahan percakapan publik: apakah capaian yang disebut benar-benar dialami rakyat, apakah angka yang dibanggakan cocok dengan kenyataan lapangan, dan apakah janji baru punya dasar kebijakan yang bisa diawasi.
Baca juga : Negara Jangan Mabuk
Titik buta kekuasaan adalah mengira komunikasi bisa menggantikan kenyataan. Negara sering terlalu sibuk menyusun narasi, sementara rakyat sibuk menyusun ulang belanja harian. Pemerintah bicara ketahanan pangan, tetapi petani masih cemas biaya produksi. Pemerintah bicara bantuan, tetapi data penerima masih diperdebatkan. Pemerintah bicara stabilitas, tetapi harga di pasar tidak selalu ikut hormat kepada pidato.
Karena itu, pidato kenegaraan harus turun dari mimbar menuju dapur. Jelaskan pangan dengan jujur: stoknya berapa, distribusinya bagaimana, siapa yang bermain harga, mengapa petani belum sejahtera, dan bagaimana rakyat miskin dilindungi dari guncangan. Jangan hanya menumpuk kata capaian. Bukalah ruang koreksi. Negara yang kuat bukan negara yang pidatonya tanpa cela, tetapi negara yang berani membiarkan pidatonya diperiksa rakyat.
Baca juga : Rupiah Ikut Gelisah
Pidato memang perlu. Simbol negara juga perlu. Tetapi pangan lebih perlu. Sebab republik tidak hanya berdiri di atas teks proklamasi, gedung parlemen, dan naskah kenegaraan. Republik juga berdiri di atas dapur rakyat. Bila dapur itu kosong, pidato paling gagah pun hanya terdengar seperti gema di ruang makan yang tak berasap.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.