Dark/Light Mode
- Kemenag Terbitkan 40 Buku Digital PAI untuk Siswa PAUD hingga Mahasiswa
- Investasi 6 Perusahaan TPT Berpotensi Ciptakan Hampir 10.000 Lapangan Kerja
- Bos Toyota: Solusi Atasi Krisis Iklim Bisa Dari Lingkungan Sekitar
- Transjakarta Gandeng APKI-PERDOKI, Perkuat Standar Kesehatan Pramudi
- Umuh Muchtar Optimistis Maung Bandung Makin Kuat
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Rupiah sedang gelisah. Bukan hanya karena tekanan pasar global. Bukan hanya karena arus modal pergi dan datang seperti tamu yang mudah tersinggung. Tetapi karena mata uang juga punya telinga. Ia mendengar kabar politik, membaca arah kebijakan, dan menangkap getaran kepercayaan yang goyah.
Di situlah ironi ekonomi bekerja. Pemerintah ingin pertumbuhan tinggi, belanja besar, investasi deras, dan proyek berjalan cepat. Tetapi pasar bertanya dengan dingin: siapa yang menjaga rem? Ketika bank sentral terlihat terlalu dekat dengan tekanan politik, rupiah ikut gugup. Mata uang tidak hanya jatuh karena pasar. Kadang ia jatuh karena negara membuat kepercayaan ikut goyah.
Baca juga : Merdeka dari Mahal
Rakyat kecil sering tidak ikut bicara soal suku bunga, cadangan devisa, capital outflow, atau independensi bank sentral. Tetapi mereka merasakan akibatnya. Rupiah yang melemah bisa membuat barang impor lebih mahal, biaya produksi naik, harga pangan bergerak, obat-obatan ikut terdorong, dan cicilan terasa lebih berat. Di layar televisi, itu disebut volatilitas. Di dapur rakyat, itu disebut tambahan beban.
Douglass North dalam Institutions, Institutional Change, and Economic Performance mengingatkan bahwa kinerja ekonomi sangat ditentukan oleh kualitas institusi. Pasar tidak hidup hanya dari angka. Ia hidup dari kepastian aturan, kredibilitas lembaga, dan prediksi bahwa keputusan hari ini tidak akan berubah besok pagi karena selera politik. Institusi yang kuat membuat risiko bisa dihitung. Institusi yang goyah membuat risiko berubah menjadi kecemasan.
Baca juga : Bendera Tak Kenyang
Titik buta kekuasaan adalah mengira pasar hanya butuh kabar baik. Tidak. Pasar lebih percaya pada lembaga yang jujur daripada pidato yang manis. Investor bisa menerima tekanan global. Pelaku usaha bisa memahami perubahan suku bunga. Rakyat bisa bersabar menghadapi masa sulit. Tetapi semua menjadi gelisah ketika kebijakan ekonomi tampak seperti tarik-menarik antara ambisi politik dan disiplin institusi.
Karena itu, tugas negara bukan sekadar menenangkan pasar dengan kalimat optimistis. Jaga independensi Bank Indonesia. Jelaskan arah fiskal dengan jernih. Hindari kebijakan yang membuat pelaku ekonomi menebak-nebak. Beri ruang kepada teknokrat untuk bekerja tanpa diganggu kebutuhan pencitraan. Pertumbuhan memang penting, tetapi pertumbuhan yang diburu dengan mengorbankan kredibilitas hanya akan membuat ekonomi tampak berlari sambil kehilangan napas.
Baca juga : Republik Perlu Malu
Rupiah bukan sekadar kertas dan angka kurs. Ia adalah cermin kepercayaan. Bila institusi kokoh, rupiah punya sandaran. Bila kekuasaan terlalu banyak memberi sinyal yang membingungkan, rupiah ikut gemetar. Negara boleh mengejar mimpi besar. Tetapi jangan lupa: mata uang juga bisa takut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.