BREAKING NEWS
 

“Kami Di Atas Politik”

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Kamis, 3 September 2026 05:52 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - NU bukan untuk berpolitik.” Kalimat tersebut disampaikan Gus Kikin setelah terpilih menjadi Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Ini menarik. Karena, sulit sekali membicarakan NU tanpa membicarakan politik. Bahkan pernyataan “tidak untuk berpolitik” bisa ditafsirkan sebagai statemen politik yang cerdik dan strategis.

Kalau NU “tidak untuk berpolitik”, tapi politik ingin selalu dekat-dekat NU. NU seperti digariskan untuk selalu digoda. NU terlalu besar dan menarik untuk tidak diperhatikan oleh politik.

NU memiliki pesantren. Ulama. Santri. Jaringan masyarakat. Tokoh-tokoh yang didengar. Dan jutaan warga yang, dalam pemilu, tentu saja memiliki hak politik, dipilih dan memilih.

Inilah tantangannya. Untuk apa, lalu siapa yang akan memanfaatkan kelebihan dan kekuatan tersebut. Apakah warga NU, segelintir elitenya? Atau pihak lain?

Baca juga : Rampas Senyum

Maka ketika dikatakan “NU bukan untuk berpolitik”, tampaknya ada muatan penting yang juga ingin disampaikan: “Jangan gunakan NU sebagai kendaraan untuk kepentingan politik.”

Kenapa? Karena “kami di atas politik”. Kami melampaui politik praktis.

Ini penting. Karena organisasi kemasyarakatan dan keagamaan tetap hidup di tengah masyarakat. Tidak mungkin tidak bersentuhan dengan berbagai kebijakan.

Ketika harga beras naik, NU punya suara. Ketika pendidikan bermasalah, NU punya suara. Ketika kemiskinan meningkat, NU punya suara.

Adsense

Ketika ada kebijakan yang dianggap baik, NU boleh mendukung. Ketika kebijakan itu dianggap buruk, NU juga boleh mengingatkan.

Baca juga : Bayangkan Api Itu Di Jakarta

Itu bukan politik praktis. Itu kehidupan masyarakat. Karena itu, kalimat “NU bukan untuk berpolitik” bukan berarti NU ingin menjauh dari persoalan bangsa. Justru sebaliknya. NU boleh masuk ke persoalan bangsa sedalam-dalamnya. Tetapi jangan sampai masuk ke perebutan kekuasaan.

Kalau NU ingin tetap menjadi rumah yang besar dan kokoh, perlu terus berhati-hati, independen, agar tidak berubah menjadi rumah bagi kepentingan sesaat politik tertentu.

Kekuasaan boleh saja berganti. NU harus tetap di rumahnya yang besar dengan kedudukannya yang tinggi.

NU harus menjaga satu hal yang lebih berharga daripada kedekatan dengan siapa pun: kemampuan untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Mampu menjaga jarak ideal yang pas.

Karena, kekuasaan akan selalu berganti. Partai akan datang dan pergi. Menang dan kalah. Tetapi NU, akan tetap ada. Berdiri tegak. Kokoh. Gagah.

Baca juga : Menjual Pintu Masuk

Karena itulah, NU tidak boleh sibuk memenangkan politik. Organisasi yang sangat besar dan berpengaruh ini perlu tetap kuat dan independen. Mandiri. Secara politik dan ekonomi.

Ini penting, karena NU punya pekerjaan yang lebih panjang: menjaga masyarakat. Memperjuangkan warganya.

Dalam situasi dan kondisi apa pun. Panas atau hujan. Siapa pun yang duduk di kekuasaan. Parpol mana pun yang berdiri di podium pemenang. Warna apa pun yang sedang berkibar.

Di situlah maqomnya.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 3 September 2026 dengan judul “Kami Di Atas Politik”

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense