RM.id Rakyat Merdeka - Di Indonesia, akhir-akhir ini hampir semuanya terjadi bersamaan. Kapal tenggelam. Enam meninggal. 106 orang dinyatakan hilang.
Ada pula asap yang memenuhi udara, dan orang-orang sesak nafas. Sumatera kebanjiran. Rumah, jalan, sawah terendam. Kita ikut bersimpati.
Gunung api menyemburkan abu. Hutan terbakar. Warga terpapar polusi. Lalu muncul kabar lain, seorang menteri diganti. Heboh. Banyak spekulasi beredar.
Mengiringi berita-berita tersebut, muncul berita korupsi. Uang ratusan miliar disita. Disimpan dalam belasan koper. Hitungannya bukan lagi belasan lembar atau ikat. Tapi koper. Dan, kita membaca beritanya sambil bergumam: “Gila!”
Baca juga : “Ah, Itu Sudah Biasa”
Layar hape terus digulir. Karena di bawah berita korupsi ada berita banjir. Di bawah berita banjir ada gunung meletus. Di bawah gunung meletus ada kapal tenggelam. Dan di bawah semuanya, ada video hiburan. Yang berduka…, berduka. Yang korupsi, ya korupsi saja.
Di negara lain, satu saja dari peristiwa itu, cukup untuk membuat seluruh negeri berhenti sejenak. Pemerintah dituntut menjelaskan. Parlemen bereaksi sangat keras. Masyarakat bertanya lantang: bagaimana ini bisa terjadi. Usut tuntas! Mundur! Dan, akhirnya pejabat itu memang mundur.
Di sini, pertanyaan serta fenomena itu sering berganti menjadi kepasrahan: “Ya, mau gimana lagi?” Atau, “memang begitu dari dulu”.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang jauh lebih besar. Bangsa ini sepertinya mengalami kelelahan massal. Ada semacam ketidakberdayaan publik yang dimaklumi.
“Kepasrahan” ini, bisa jadi karena, “jangankan imbauan, teriak pun tak ada artinya”. Rakyat kemudian menerima kondisi ini sebagai keniscayaan. Lalu menjadi “new normal”.
Daripada mengalami kekecewaan berulang. Pada saat bersamaan, bangsa ini kemudian menjadi kebal karena terlalu sering menyaksikan masalah tanpa sempat menyelesaikannya. Krisis kepercayaan yang kian parah, juga mempercepat “new normal” ini.
Hari ini rakyat marah. Besok berduka. Lusa, lupa. Kembali seperti biasa. Bukan karena tidak peduli. Mungkin justru karena terlalu banyak yang harus dipedulikan.
Akhirnya, tragedi menjadi angka. Korupsi menjadi sekadar nominal. Kita bahkan lupa, siapa saja yang sudah terjaring OTT KPK tahun ini.
Baca juga : “Anda Desil Berapa?”
Bahkan, korupsi berulang-ulang pun, bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Ketika ada yang bebas dan berkiprah lagi, kita hanya berujar, “oh, dia sudah bebas. kapan bebasnya!?”.
Ketika ada pergantian pejabat, juga menjadi sekadar munculnya nama baru. Tidak ada yang luar biasa yang diharapkan akan berubah. Atau, sebaliknya, tidak digantinya pejabat-pejabat yang bermasalah, juga dianggap biasa saja.
Semua itu sangat mengkhawatirkan. Dianggap “biasa saja”. Padahal di negara lain, itu sudah sangat luar biasa. Satu negara bisa tersentak. Kaget dan bereaksi sangat luar biasa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.