Dark/Light Mode

“Ah, Itu Sudah Biasa”

Selasa, 15 September 2026 06:02 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak kasus di negeri ini terkesan dianggap enteng. Awalnya memang heboh. Dibicarakan lewat podcast atau medsos. Ramai. Lalu pelan-pelan menghilang. Seperti tak terjadi apa-apa.

“Ah itu sudah biasa”. Begitu sebagian besar dari kita bergumam. Pasrah, seolah tak berdaya. Kasus-kasus tersebut, dan cara kita menyikapinya, seperti menjadi keniscayaan ala Indonesia.

Begitulah epidemi “normalisasi pembusukan” pelan-pelan menjangkiti bangsa ini. Kasus demi kasus, kecil maupun besar, tidak lagi memicu amarah publik, melainkan melahirkan apati massal. Biasa saja.

Di sisi lain, para pejabat terlihat sangat genius merancang “pembelaan” untuk memperkecil masalah. Dan, masyarakat pelan-pelan kehilangan daya gedor dan daya kejutnya. Tidak ada gairah. Banal.

Baca juga : Kursi Pinjaman

Di titik itulah, kita sedang memelihara maklum. Dan, maklum adalah pupuk terbaik bagi tumbuhnya ketidakbecusan otoritas yang terus berulang.

Sudah terlalu sering kalau kita membandingkan dengan standar negara lain. Negara-negara yang membangun peradaban mereka dengan merawat integritas secara serius. Tapi, tak apalah, untuk menyegarkan ingatan, kita sebutkan lagi.

Di Swedia misalnya, Wakil Perdana Menteri tersingkir dari politik hanya karena membeli dua batang cokelat batangan dengan kartu kredit dinas. Di Jepang, seorang menteri membungkuk khidmat meminta maaf lalu mundur karena terlambat rapat lima menit akibat macet.

Sekarang, benturkan realitas itu dengan wajah kita. Di sini, kebocoran data siber jutaan warga disikapi santai layaknya salah ketik administrasi biasa. Kerusakan lingkungan, disikapi “dari dulu memang begitu”. Kecelakaan demi kecelakaan, seperti menjadi peristiwa biasa yang segera dilupakan.

Baca juga : “Anda Desil Berapa?”

Keracunan massal juga terkesan direspons “biasa-­biasa” saja. Penanganan bencana dan pasca bencana, juga begitu­begitu saja.

Kasus korupsi sampai ratusan triliun seolah menjadi peristiwa rutin. Koruptornya pun masih bisa hahahihi sambil melambaikan tangan, dan suatu saat bisa kembali berkiprah di politik dengan nyaman.

Ketika utang negara membubung untuk sebuah kereta api, dan utangnya harus dicicil sampai 80 tahun, respons yang lahir justru terkesan menganggap enteng. “Kita nanti udah mati, jadi santai saja,” seloroh seorang menteri.

Sikap meremehkan persoalan, pasrah, mereaksi dengan kalimat “ah sudah biasa”, “santai saja”, atau reaksi “mau gimana lagi, begitulah Indonesia”, harus segera diputus. Level reaksi publik harus dinaikkan lagi.

Baca juga : Antara Debu Dan Asap

Karena, mentolerir hal­hal sepele serta kelalaian kecil, apalagi yang besar, akan menjadi pintu gerbang menuju kehancuran sistemik yang parah bagi sebuah bangsa.

Negara yang kuat tidak dibangun oleh masyarakat yang pemaaf terhadap ketidakbecusan otoritas. Jika kita terus memaklumi dan menganggap enteng masalah, maka masa depan bangsa ini pun akan dihabisi dengan cara yang sangat enteng dan biasa­-biasa saja.

Kalau itu terjadi, maka bangsa ini akan tertidur lebih lama sambil berjalan mundur. Semoga itu tidak terjadi. Semoga tidak ada lagi “ah itu sudah biasa”. Semoga bangsa ini tidak terus menerus memelihara “harap maklum”.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.